Lampu kristal raksasa di langit-langit ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta memancarkan cahaya keemasan yang teramat menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan dari deretan gaun adibusana dan perhiasan berlian ratusan karat milik kaum elit metropolitan. Denting halus gelas sampanye yang beradu dengan alunan musik piano klasik menciptakan atmosfer perjamuan sosial yang begitu megah, namun bagi Elara Altamis, tempat ini tidak lebih dari sebuah arena gladiator. Sebuah tempat di mana para singa lapar dari kalangan sosialita papan atas siap mencabik-cabik sisa-sisa harga dirinya yang telah koyak oleh skandal media pagi tadi. “Tegakkan dagumu, Elara. Jangan biarkan kamera-kamera itu menangkap gurat ketakutan di wajahmu,” bisik Arlo Danendra tepat di samping telinganya. Arlo berdiri tegap mengenaka

