Pagi itu, udara di koridor lantai dua terasa setipis kertas. Ketika pintu kamar Arka dan Clara terbuka di saat yang hampir bersamaan, dunia seolah berhenti berputar selama beberapa detik. Arka, yang sudah rapi dengan kemeja biru navy yang lengannya digulung sesiku, terpaku di ambang pintu. Di seberangnya, Clara berdiri dengan blus berwarna pastel, matanya yang sedikit sembab berusaha keras menghindari kontak mata yang terlalu lama. Hening. Tidak ada sapaan "Selamat pagi" atau candaan ringan yang biasanya mengisi hari-hari mereka. Arka menangkap gurat kelelahan yang nyata di wajah Clara, sementara Clara hanya bisa merasakan debaran jantungnya yang memukul d**a begitu keras. "Cla—" Suara Arka baru saja akan memecah kesunyian, namun Clara lebih dulu membuang muka. Tanpa sepatah kata pun, C

