Bab 49. Nasib Yang Bersinggungan (Arka–Clara)

1985 Kata

Mereka tidak langsung pulang setelah dari rumah Liam. Jelita duduk di kursi penumpang dengan tubuh tegak, tapi wajahnya kosong. Tangannya menggenggam ponsel sejak tadi, ibu jarinya sesekali bergerak, memeriksa layar yang tetap sunyi. Tidak ada pesan. Panggilannya tidak tersambung sama sekali. Pesan tidak terbaca. Aditya menyetir tanpa banyak bicara. Ia tahu, saat ini kata-kata menenangkan yang terlalu cepat hanya akan memantul dan jatuh sia-sia. Tujuan pertama mereka adalah kantor pusat Hadiningrat. Gedung itu berdiri megah seperti biasa. Dingin dan formal. Tidak berubah sejak Jelita kecil sering menunggu Sora di ruang tamu lantai atas. Namun hari ini, semua terasa asing. Satpam tidak mengetahui di mana bosnya. Resepsionis menjawab dengan senyum profesional yang rapi, tanpa celah. “Ny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN