Bab 50. Bukan Saudara Serahim

1980 Kata

“Tarik napasnya pelan-pelan, Bu. Iya ... seperti itu. Jangan dipaksa,” ucap Jelita lembut sambil memperhatikan monitor di samping ranjang pasien. Perempuan paruh baya itu mengangguk, wajahnya sedikit meringis tapi matanya tenang. Jelita menyesuaikan selang infus, lalu merapikan selimut hingga menutup d**a pasien dengan rapi. “Untuk hari ini cukup. Obatnya diminum sesuai jadwal, jangan dilewatkan,” lanjut Jelita. “Kalau dadanya terasa sesak lagi atau pusingnya datang tiba-tiba, langsung panggil suster, ya.” “Iya, Dok. Terima kasih,” jawab pasien itu tulus. Jelita tersenyum. Senyum profesional yang sudah ia latih bertahun-tahun, tapi tetap hangat. Ia mengangguk kecil, lalu melangkah keluar dari ruang periksa, menutup pintu perlahan di belakangnya. Baru beberapa langkah di lorong klinik,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN