Bab 51. Mamaku Bukan Bella

1963 Kata

Sore merambat turun ketika mobil Aditya berhenti di seberang gedung Hadiningrat Group. Kaca-kaca tinggi bangunan itu memantulkan cahaya matahari yang mulai meredup, seperti menutup satu hari panjang dengan kilau yang dingin dan berjarak. Jelita masih mengenakan seragam dokter yang dilapisi cardigan tipis. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, jemarinya dingin meski AC mobil tidak terlalu rendah. “Kita lihat dulu dari sini,” ucap Aditya pelan, seolah takut suaranya terlalu keras dan bisa memecahkan keberanian Jelita yang sedang ia kumpulkan sedikit demi sedikit. “Biasanya mereka keluar barengan menjelang magrib.” Jelita mengangguk. Tenggorokannya terasa kering. Sejak tadi matanya tak lepas dari pintu utama gedung itu. Setiap kali pintu kaca terbuka dan seseorang keluar, dadanya b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN