Kantor Hadiningrat siang itu kembali tenggelam dalam ritme biasanya. Namun bagi Liam, ada satu hal yang terasa janggal sejak ia melangkah keluar dari lift dan langsung menuju ruangan Arka. Pintu itu diketuknya sekali, lalu dua kali. Tak ada jawaban. Liam membuka pintu perlahan. Ruangan itu rapi seperti biasa, nyaris steril. Tak ada tanda-tanda Arka baru saja pergi terburu-buru. Liam berdiri di ambang pintu beberapa detik, lalu menghela napas kecil. Ia melirik jam tangannya, sebelum akhirnya melangkah ke meja sekretaris Arka. “Arka ke mana?” tanyanya ringan. Sekretaris itu sedikit terkejut melihat Liam berdiri begitu dekat. “Tuan Arka tadi mendadak pergi, Pak. Pergi dengan Pak Roy.” “Mendadak?” alis Liam terangkat sedikit. “Iya, Pak. Beliau cuma bilang ada urusan penting dan harus kel

