Bab 54. Debar yang Salah

1762 Kata

Arka menutup pintu kamar dengan pelan, seolah-olah bunyi sekecil apa pun bisa membocorkan sesuatu yang sedang kacau di dalam dadanya. Ia menyandarkan punggung ke daun pintu, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Dadanya masih berdebar. Bayangan itu datang lagi tanpa permisi. Bahu Clara yang sempat terlihat ketika handuknya bergeser, kulitnya yang cerah, garis leher yang seharusnya tidak ia perhatikan dan yang paling mengganggu, reaksi di tubuhnya sendiri. Bukan refleks seorang kakak. Bukan rasa canggung yang netral. Melainkan dorongan naluriah yang terlalu jujur untuk disangkal. Arka mengusap wajahnya kasar, lalu menggeleng kuat. “Berhenti,” gumamnya lirih, seolah-olah menegur dirinya sendiri. Ini tidak masuk akal. Clara adalah adiknya. Setidaknya, itu yang selama ini i

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN