Pagi itu, pintu kamar di lantai dua terbuka hampir bersamaan. Clara melangkah keluar lebih dulu, rambutnya tergerai rapi, mengenakan blus sederhana berwarna krem. Ia baru saja menutup pintu kamarnya ketika langkah lain terdengar dari arah berlawanan. Saat ia menoleh, Arka sudah berdiri di depan pintu kamarnya sendiri. Pandangan mereka bertemu sesaat. Namun cukup lama untuk membuat d**a Clara menegang tanpa alasan yang jelas. Arka terlihat sama terkejutnya. Rahangnya sedikit mengeras, matanya menahan sesuatu yang bahkan tak ia mengerti. Keduanya refleks menunduk hampir bersamaan, seolah-olah sedang melakukan kesalahan kecil yang tak perlu terjadi. Detik itu terasa canggung. Sedikit bening. Sampai akhirnya Arka menarik napas dan melangkah lebih dulu, memilih menjadi pihak yang memecah

