Mobil Liam berhenti tepat di depan rumah besar yang sudah ia kenal sejak kecil. Rumah itu tak banyak berubah, halamannya tetap rapi, pohon kamboja di sisi kanan masih berdiri kokoh, dan pintu kayu berukir itu masih memberi kesan wibawa yang sama seperti puluhan tahun lalu. Liam turun dari mobil dan melangkah masuk setelah satpam membuka pintu. “Mama ada di dalam?” tanyanya singkat. “Sudah menunggu, Tuan,” jawab satpam itu sopan. Begitu memasuki ruang tengah, Sora sudah duduk tegak di kursi utamanya. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya terlihat tenang, tapi sorot matanya tetap tajam seperti dulu. Perempuan itu menoleh dan menatap Liam tanpa banyak ekspresi. “Kamu datang,” katanya datar. “Iya, Ma,” jawab Liam sambil menghampiri dan duduk di seberang ibunya. Tak ada pelukan. Tak ada bas

