Siang itu kantor kembali ke ritmenya yang biasanya. Arka baru saja kembali dari makan siang. Perutnya kenyang, tapi pikirannya masih tertinggal pada makan siang menyenangkan bersama sama Mama. Saat hendak membuka pintu ruangannya, langkah pria itu terhenti. Clara muncul dari arah berlawanan, membawa map tipis di d**a. Tatapan mereka beradu sepersekian detik. Cukup lama untuk Arka menangkap sesuatu yang berbeda di mata Clara. Tatapan ragu yang tak terbantahkan. “Hai,” sapa Arka, berusaha santai. Clara tersenyum kecil, cepat. “Hai, Kak.” Ada jeda sepersekian detik. Arka merasakan nalurinya menyenggol. Ada yang tidak beres. Senyum itu seperti bukan milik Clara sepenuhnya. “Clara,” katanya pelan, sebelum ia sempat melangkah pergi. “Ada yang salah sama aku?” Clara terkejut, jelas terliha

