Clara menutup pintu kamarnya dengan hati-hati, seolah suara engsel sedikit saja bisa membocorkan isi kepalanya. Punggungnya bersandar di daun pintu, napasnya belum sepenuhnya kembali normal. Dadanya naik turun karena pikirannya tak mau diam. Ia menatap langit-langit kamar. Kenapa aku kepikiran begini, sih? Bayangan Arka kembali muncul. Bayangan ketika pria itu duduk santai di restoran mall, tersenyum lebar, meminta suap dengan cara yang terlalu akrab. Dan perempuan itu. Tante-tante itu terlalu … intim untuk sekadar makan siang biasa. Clara menggigit bibir bawahnya. Kalau memang cuma rekan kerja atau relasi keluarga, kenapa harus sampai suap-suapan? Ia menggeleng cepat, seolah-olah ingin mengusir pikirannya sendiri. Tapi semakin ia menolak, semakin kuat rasa itu menekan. Ada sesuatu d

