Lorong rumah sakit kembali ramai setelah pasien dibawa masuk. Mandor dan pengawas lapangan menyusul Arka, wajah mereka penuh rasa bersalah bercampur tegang. Mereka berdiri membentuk setengah lingkaran, menjelaskan kronologi kecelakaan barusan, soal pijakan yang longgar, standar keselamatan yang luput diperiksa, dan rencana evaluasi menyeluruh. Arka mendengarkan dengan saksama. Wajahnya tenang, suaranya datar tapi tegas saat menanggapi. Ia tak memarahi siapa pun, hanya memberi instruksi jelas. Hentikan sementara pekerjaan di titik itu, periksa ulang semua alat, dan laporkan detailnya tertulis sore ini. Pengawas mengangguk berkali-kali dan mencatat cepat. Di tengah percakapan itu, Clara berdiri agak ke belakang. Kepalanya masih penuh oleh satu wajah. Perempuan pagi tadi. Dokter. Ibu-ibu? A

