Malam sudah benar-benar jatuh ketika Arka berdiri di depan pintu kamar Clara. Koridor rumah itu sunyi, hanya lampu dinding berwarna kuning redup yang menyala setia. Ia mengangkat tangan, lalu mengetuk dua kali. Tidak keras, tapi cukup tegas untuk didengar. Beberapa detik berlalu sebelum daun pintu terbuka. Clara muncul dengan rambut masih sedikit berantakan, mengenakan piyama sederhana. Wajahnya tampak pucat, tapi matanya jernih. Ia jelas tidak menyangka akan melihat Arka berdiri di sana, di jam segini, dengan ekspresi yang entah kenapa terlihat serius sekaligus ... khawatir. “Kak.” Suara Clara refleks naik setengah oktaf. Arka juga tampak terkejut sepersekian detik, seolah-olah baru menyadari bahwa yang berdiri di hadapannya bukan sekadar orang yang ingin ia pastikan keadaannya. Ada j

