Kanaya menarik Aldric dan memeluknya erat memberikan kekuatan pada orang yang tidak tahu sejak kapan sangat berarti baginya. “aku turut berbela sungkawa ya Al atas meninggalnya papa kamu, maaf aku tidak tahu…” Kanaya mengurai pelukannya dan membawa Aldric duduk di sofa, Kanaya menatap Aldric, tampak wajah Aldric terlihat sangat terpukul. “Are you okay?” Kanaya menggenggam kedua tangan Aldric tapi Aldric tak menjawabnya, matanya menerawang jauh. Kanaya tidak tahu kedekatan Aldric dengan papanya seperti apa tapi ia yakin Aldric sangat menyayangi papanya, jika ia jadi Aldric mungkin ia tak tahan dan akan lebih tertekan lagi. Aldric bergerak dan menyandarkan kepalanya di bahu Kanaya, ia senang Kanaya datang membuat hatinya sedikit nyaman. Aldric tak menyangka jika papanya anval dan kom

