Djiwa tertegun. Alisnya bertaut dan menatap tidak percaya pada Nila. Namun, hati kecilnya sudah menebak akan hal tersebut beberapa waktu lalu. Andai saja Djiwa lebih jeli lagi, maka ia pasti sudah menyimpulkan hal ini sejak awal. Sesaat, Djiwa meraih botol air mineral yang ada di tengah meja. Membuka tutupnya dengan cepat, lalu meminumnya hingga separuh. Ia sedang meredam kesal sekaligus keterkejutan yang baru saja menghantam dengan telak. “Rambut waktu itu,” ucap Djiwa sambil menutup botol airnya dan kembali meletakkan di meja. “Untuk tes DNA?” “Betul,” jawab Nila kembali meraih tangan Djiwa setelah melepasnya sesaat. Ternyata Djiwa sudah menyadarinya, tetapi pria itu tidak bisa menebak-nebak apa tujuan Nila melakukan tes tersebut. “Maaf kalau belum bisa bicara dari kemarin-kemarin, ka

