Seketika dadanya seperti dihantam oleh palu ketika mendapati Sisilia yang ada di depannya, berdiri dan memandanginya. Tidak! Apa Sisilia mendengarnya? Gadis itu meremas ponsel yang masih ada di tangannya. Bagaimana kalau Sisilia bertanya? Apa dia akan dijauhi? Apa Sisilia akan membencinya. “Kamu tadi teleponan sama siapa?” Maura tidak menjawab, lidahnya terasa kelu bukan main hanya karena mendengar pertanyaan yang meluncur dari mulut Sisilia. Tangannya semakin berkeringat dingin, membuat telapak tangannya semakin basah mencengkeram gadget. “Sil …” Suaranya bahkan sulit untuk dikeluarkan. Sisilia mengamati ekspresi pucat pasi Maura. “Jangan-jangan …” Kalimatnya menggantung. Segera saja Sisilia maju dan menggenggam kedua tangan Maura. Deg deg deg. Dada Maura semakin sesak, kepalan

