"Keluarlah. Mereka sudah pulang." Suara bariton Samudra dari balik pintu kamar meruntuhkan ketegangan yang sejak tadi mengikat da-da Maura. Ia mengembuskan napas panjang, merapikan gaun tidurnya yang sedikit kusut sebelum memutar gagang pintu. Di ruang tengah, Samudra tampak bersandar santai di sofa, perlahan menyesap wine merah dari gelas kristal berkaki tinggi. Samudra hanya melirik Maura sekilas melalui sudut matanya, lalu kembali fokus pada tayangan berita finansial di televisi. Keheningan kembali merajai ruangan. Maura berdiri kaku di dekat meja, dirundung kebingungan tentang apa yang harus ia lakukan saat pria itu mendadak mengabaikannya. "Di mana kamu akan mendaftar magang?" Pertanyaan tiba-tiba dari Samudra memecah kesunyian. Maura tertegun, sepasang matanya melebar karena tida

