Tepat pada saat itu, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Samudra melangkah masuk ke area dapur dengan rambut yang masih sedikit basah pasca-mandi. Netra obsidiannya langsung terkunci pada sendok bersih di tangan Tomy yang baru saja keluar dari piring Maura. "Enak! I need this alot. Maura, tolong buatkan lagi ya nanti pas saya mampir—" "Untuk apa lo punya niat mampir-mampir ke sini lagi?" potong Samudra dingin, menyela kalimat Tomy dengan rentetan kata ketus yang seketika membekukan atmosfer dapur. Maura langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya menciut. Aura intimidasi yang menguar dari tubuh Samudra selalu sukses menekan mentalnya hingga ke titik terendah. Tomy berdecak pelan, meletakkan sendoknya lalu menatap Samudra dengan pandangan tidak habis pikir. "Lo pasti ud

