"Sam ... aku akan kembali ke apartemen," pamit Maura lirih usai menuntaskan kewajibannya malam itu. Biasanya, ia akan langsung terlelap karena kelelahan, namun bayangan Raka yang kini berada di unit sebelah membuatnya tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai kakak. Samudra tidak menyahut secara lisan. Ia masih sibuk dengan ponselnya meski waktu telah melewati tengah malam. Wajahnya yang diterangi cahaya layar terlihat sangat kaku dan tak tersentuh. "Ya, pergilah," jawabnya dingin tanpa sedikit pun menoleh. Maura menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kalimat singkat dan nada datar itu entah mengapa terasa seperti cubitan pedas di hatinya. Setelah membersihkan diri dengan tergesa, ia segera keluar dari unit Samudra. Dengan penuh kehati-hatian, Maura membuka pintu unit 313—tempat yan

