Byan merangkup wajah Kasih dan sekali lagi memberi kecupan di bibir wanita itu. Rasanya begitu menyenangkan saat cintanya bersambut. Tidak bisa dideskripsikan perasaannya. “Aku ingin melayani kamu, Ratuku. Duduk di sini dan tunggu sarapan spesial yang aku buat ya.” Byan menuntun Kasih untuk duduk di stool bar sedang dia lanjut menyelesaikan sarapannya. Kasih tersenyum dengan perlakuan Byan, dia menyangga tangannya dan memperhatikan pria itu yang sedang membelakanginya dan sibuk dengan masakannya. Tidak menyangka jika tahun berlalu merubah pria itu dan membuat Byan mahir di dapur. “Kamu … Sejak kapan memiliki hubungan baik dengan Ayah, Mas?” Kasih memulai obrolannya, Byan menoleh dengan senyum yang menawan. “Sejak kami memiliki nasib yang sama. Sama-sama menyesal atas kepergianmu dan