Citra masih diam. Mencari kalimat yang tepat, dan mudah dimengerti untuk Andin. "Jawab, Buna." Citra tersenyum, diusap pipi putrinya. "Tidak segampang membuat roti, Sayang. Karena perlu waktu yang lama sekali." Citra menjelaskan dengan kalimat yang terlintas dipikiran. "Tidak bisa cepat ya, Buna. Andin mau adiknya jadi besok." Andin memohon dengan tatapannya. "Andin tahu Tante Imah, bikin adiknya lama sekali. Ingat tidak?" "Begitu ya, Buna." "Iya. Andin harus berdoa terus, biar bisa punya adik." "Iya, Buna." "Sebentar lagi maghrib, kita salat di musholla rumah saja." "Iya, Buna." "Ayo." "Eh, sebentar, Buna." "Ada apa?" "Terima kasih Buna sudah mau tinggal di sini. Andin senang sekali." "Kembali kasih, Sayang." Citra mengecup pipi putrinya. "Citra!" Bi Sulis berdiri di amban