Cakra mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Sangat sakit saat harapan yang melambung terhempas. "Jadi bagaimana?" Tanya Cakra akhirnya dalam rasa kecewa. "Apa ibu punya stok pembalut?" Wajah Citra memerah saat bertanya, ia malu. "Aku rasa ibu tidak datang bulan lagi." "Bibi?" "Aku tidak tahu, Citra." "Tolong panggilkan bibi saja ke sini." "Kamu mau aku gendong ke luar?" "Tidak tanpa pembalut." Kepala Citra menggeleng. "Ya sudah, aku panggil bibi dulu." Cakra ke luar, Citra berdiri dengan satu kaki. Ia berpegangan di atas wastafel. Tidak menunggu lama, Cakra datang bersama bibi. "Ada apa, Citra?" Bi Sulis menatap Citra dengan perasaan cemas. "Bibi punya pembalut?" Tanya Citra. "Pembalut?" Bibi belum paham maksud Citra. "Saya datang bulan." "Oh ... ada, sebentar aku ambi