Pertaruhan di Tengah Malam

1147 Kata
Zen mengemudi mobil pinjamannya kembali ke Kota Karta. Udara di dalam mobil dipenuhi ketegangan. Di kursi belakang, Virian menggenggam erat mawar putih yang kini mulai layu, tetapi tekad di matanya membara. Mereka tiba di depan Bar bobrok yang menjadi lokasi pertemuan pertama dengan Kido. ​(ucap Zen, mematikan mesin, suaranya tercekat): “Vir, kamu harus tenang. Ingat, dia itu paranoid. Jangan sampai kita kena sikut lagi. Aku tidak mau terkena bogem mentah dari Kido seperti kamu terkena bogem.” ​(ucap Virian, suaranya dingin dan tegas): “Aku tahu. Aku yang akan bicara. Kamu hanya perlu mendukung keputusanku. Dan jangan tunjukkan kepanikanmu, Zen.” ​(ucap Zen, menelan ludah, mengelap keringat di dahinya): “Paham. Aku akan mencoba bersikap seperti bodyguard CEO.” ​Mereka keluar dari mobil. Virian kembali mengenakan penyamaran Vir: kemeja lusuh, janggut palsu, dan wig—sebuah ironi di atas setelan Boss mahalnya. Mereka berjalan menuju sudut gelap di samping Bar, tempat Kido menunggu. ​Kido berdiri bersandar di dinding, mata tajamnya mengamati setiap gerakan mereka. Dia tidak terlihat santai; aura kecurigaan dan kewaspadaan mengelilinginya. ​(ucap Kido, langsung menatap Virian, nadanya sinis): “Loe datang, CEO. Sudah siap kehilangan kerajaan loe?” ​(ucap Virian, langkahnya tenang, menunjukkan d******i): “Aku datang untuk menantang kejujuranmu, Kido. Apakah kamu benar-benar mencari kebenaran, atau hanya kekuasaan?” ​(ucap Kido, menyeringai): “Jangan bermain filosofi denganku. Aku hacker, bukan filsuf. Loe bilang loe setuju dengan tawaran gue, kan?” ​(ucap Virian, Virian mendekat, ekspresinya tegas): “Aku setuju, tapi dengan perubahan detail. Aku akan memberimu data paling jujur dan paling berbahaya yang PGG miliki, sebagai bukti kejujuranku melawan Ayahku sendiri.” ​(ucap Kido, wajah tetap sinis): “Apa itu?” ​(ucap Virian, dengan tegas): “Database limbah dan pencucian uang limbah, milik ayahku dan yang dikelola oleh Alexa Wijaya!!” ​ ​(ucap Kido, tertawa sinis, langkahnya maju): “Hahahaha.... Bullshit. Data jujur? Source code PGG lebih bernilai daripada semua data limbah Ayah loe. Gue gak mau sampah itu!!” ​(ucap Virian, nadanya tajam, tidak gentar): “Sampah? Itu adalah master file kriminal milik Aryo Pratama. Data itu akan menjatuhkan Ayahku dan Alexa Wijaya di jalur hukum nanti, yang berarti membongkar kebusukan korporat secara nyata. Bukankah itu yang kamu cari?” ​(ucap Kido, ekspresinya berubah, ragu): “Itu... itu risiko besar. Data itu bisa membuat gue jadi target pembunuhan. Source code hanya membuat gue kaya.” ​(ucap Virian, menekan): “Justru itu. Kido, kamu minta source code maka kutawarkan aset, padahal kamu butuh kebenaran. Pencucian uang limbah itu cukup besar nominalnya dan bisa membuat kamu kaya. Aku memberikan bom waktu yang tidak akan didapatkan hacker lain di Jayadwipa. Apakah kamu berani jadi pahlawan dari kebenaran itu, atau cuma pencuri source code?” ​(ucap Zen, berbisik keras di belakang Virian, panik): “Vir, please jangan sebut dia pencuri! Jangan memancing kekerasan! Ingat perutku!” ​(ucap Kido, mengabaikan Zen, matanya menyipit): “Loe sengaja menjebak gue. Loe mau gue yang menanggung risiko hukum, sementara loe duduk manis di kursi CEO.” ​(ucap Virian, Virian mengeluarkan mawar putih yang layu): “Aku tidak menjebakmu. Aku memberimu apa yang kusebut kebenaran yang tidak bisa disangkal. Jika kamu berani menerima data limbah B3 terenkripsi ini, aku menjamin kita akan saling menguntungkan: Ayahku jatuh, dan kamu mendapatkan senjata paling mematikan untuk mengalahkan korporat dan uang yang jumlahnya tak terhitung.” ​(ucap Zen, wajahnya pucat, ia melangkah maju sedikit): “Kido, data limbah B3 itu... sangat detail. Ada tanggal, lokasi pembuangan, nama penerima transfer dan hal penting kamu pegang keuangannya juga bisa kamu atur! Itu lebih dari cukup! Percayalah!” ​(ucap Kido, dia terdiam lama, menimbang risiko dan peluang. Dia menghela napas, menyentuh lebam di pelipisnya): “Sial. Loe menang di argumen, Virian. Loe benar-benar gila. Loe berani mempertaruhkan kehancuran PGG hanya demi kejujuran.” ​(ucap Virian, senyum tipis, puas): “Aku tidak mempertaruhkan kehancuran, Kido. Aku mempertaruhkan integritas. Jadi, bagaimana? Apakah kamu menerima tawaran untuk mendapatkan aib tergelap PGG, atau kamu kembali menjadi bayangan di belakang monitor?” ​Kido menatap Virian tajam, lalu melirik Zen yang tampak ingin muntah di samping Virian. Setelah hening sejenak, Kido mengulurkan tangan. ​(ucap Kido, nadanya kini mengandung rasa hormat): “Deal, Virian Pratama. Loe gila, tapi gue suka permainan loe. Gue terima kebenaran yang tidak bisa disangkal itu. Gue akan pecahkan enkripsi loe dalam empat jam. Tapi ingat, begitu loe kasih gue akses data limbah, gue yang tentukan kapan data itu harus meledak. Loe setuju?” ​(ucap Virian, berjabat tangan dengan Kido, genggamannya kuat): “Setuju. Kirimkan detail teknis yang kamu butuhkan ke ponsel Zen. Begitu enkripsi terbuka, aku akan mengirimkan file data limbah B3 terenkripsi itu padamu. Zen akan memantau.” ​(ucap Zen, cepat-cepat menunjuk ponselnya yang bergetar): “Aku sudah menerima pesannya! Aduh! Ini terasa seperti transfer bom!” ​(ucap Kido, memandang Zen dengan sinis): “Jaga ponsel loe baik-baik, Zen. Jika file itu hilang, loe akan jadi buronan nomor satu gue.” ​Kido berbalik, menghilang dalam kegelapan lorong. Virian dan Zen berdiri sendirian di bawah penerangan redup. ​(ucap Zen, menghela napas panjang, merosotkan bahunya): “Vir... Virian. Kamu benar-benar gila. Kita baru saja membuat kesepakatan dengan iblis untuk menukar kerugian besar di keluarga PGG.” ​(ucap Virian, menatap mawar putih yang layu, tatapannya tenang): “Tidak, Zen. Kita baru saja membeli kebenaran. Sekarang, ayo kembali. Kita punya empat jam sebelum perang dimulai.” ​Perjalanan Menuju Persidangan Kedua ​Mereka bergegas kembali ke Maybach. Virian menyuruh Zen mengemudi lurus ke penthouse. ​Selama perjalanan, Virian dan Zen terus memantau progress Kido. Tiga jam yang menegangkan berlalu. Tepat pukul 03.30 pagi, sebuah notifikasi muncul di ponsel Zen. ​(ucap Zen, suaranya tercekat karena terkejut): “Vir! Kido berhasil! Enkripsi Triple-DES terbuka! Dia mengirimkan password dan source file transfer bank yang kita butuhkan! Dia benar-benar jenius! Kita berhasil!” ​Virian mengambil ponsel Zen. Di layar, tertera bukti transfer jutaan dolar dari PGG ke PT. Bumi Lestari (Alexa Wijaya), ditandai sebagai biaya ‘konsultasi logistik’—sebuah kebohongan yang rapi. Bukti ini tidak bisa dibantah. ​(ucap Virian, wajahnya datar, namun ada percikan api kemenangan di matanya): “Bagus. Zen, segera kirimkan file master limbah B3 Aryo Pratama ke Kido. Lakukan sekarang. Deal sudah terlaksana.” ​Zen dengan tangan gemetar melakukan transfer file rahasia itu. ​(ucap Zen, setelah mengirim): “Vir... kita baru saja menyerahkan kunci pembongkaran PGG kepada seorang hacker. Aku harap kita tidak menyesali ini.” ​(ucap Virian, Virian menyentuh kemeja katun lusuhnya untuk terakhir kali): “Kita akan melihat konsekuensinya, Zen. Sekarang, kita pulang. Bersiaplah. Pukul 09.00 pagi, kita akan menghadapi Ayah dan Bianca. Ini adalah persidangan kedua. Dan kali ini, aku tidak akan kalah.” ​Virian menanggalkan penyamarannya di mobil. Ia kembali menjadi Virian Pratama, CEO yang berkuasa, tetapi kini dipersenjatai dengan kebenaran yang kejam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN