Kasus pencucian uang dan sindikat

1290 Kata
Virian dan Zen tiba di penthouse Virian. Mereka tidak mencari ranjang yang mewah, melainkan meja kerja yang dingin. Virian telah menanggalkan samaran Vir dan kembali mengenakan kemeja yang rapi, tetapi aura pertempuran dari pertemuan Kido masih membekas di setiap gerak-geriknya. Pukul 03.45 pagi. Mereka terperosok dalam keheningan, membiarkan ponsel Zen yang terhubung ke monitor besar menjadi satu-satunya fokus. ​(ucap Zen, nadanya tegang, matanya menatap jam digital): “Vir, ini sudah lewat tiga jam sejak kita kirim file limbah itu. Kita hanya punya satu jam sebelum batas waktu Kido.” ​(ucap Virian, tangannya mengetik cepat di keyboard sambil menggandakan bukti transfer awal dari Kido): “Sabar, Zen. Kita sudah memberinya bom waktu terbesar. Dia pasti sedang berjuang. Fokus pada back-up semua bukti awal itu.” ​Udara di ruangan itu terasa berat, setiap detik berdetak seperti hitungan mundur menuju sebuah pengungkapan. Virian dan Zen bekerja dalam keheningan yang mencekik, ditemani cahaya monitor yang pucat. ​Tepat pada pukul 04.32 pagi, sebuah notifikasi merah berkedip ganas di layar monitor. Itu adalah pesan terenkripsi dari Kido. ​(ucap Zen, suaranya tercekat di tenggorokan, ia membaca keras-keras): “Subject: KEBENARAN YANG TIDAK BISA DISANGKAL. Isi pesan: Akses terbuka. Bayaran gue lunas. Loe menang, CEO.” ​Zen segera membuka file terlampir. Itu bukan sekadar bukti transfer, melainkan database lengkap yang telah dipecahkan Kido. ​ ​Virian segera mengambil alih kendali keyboard. Wajahnya datar, tetapi matanya menari cepat, menyerap setiap angka dan nama. ​(ucap Virian, nadanya sedingin marmer): “Berapa totalnya, Zen? Tunjukkan nominal kerugian paling brutal.” ​Zen menggulir spreadsheet keuangan yang terbuka. Wajahnya yang tegang seketika memucat, terkejut luar biasa. ​(ucap Zen, suaranya hampir tidak terdengar, penuh keterkejutan): “Lima puluh... miliar... dolar, Vir. $50.000.000.000. Korupsi selama tiga tahun terakhir. Dana anggaran PGG selalu pending karena semua uangnya... dicuci melalui skema dana limbah B3.” ​(ucap Virian, amarahnya yang tertahan kini terasa seperti kilat yang menusuk): “Lima puluh miliar. Dan siapa saja yang memegang pisau ini, Zen? Tunjukkan daftar pengkhianat!” ​Zen menggulir file di layar, menampilkan struktur gelap yang menghubungkan nama-nama paling berkuasa di PGG dan orang-orang yang selama ini Virian lindungi. Zen mengambil napas panjang, mencoba mengendalikan keterkejutannya sendiri. ​(ucap Zen, nadanya tebal karena kemarahan dan keterkejutan, ia membacakan setiap peran dengan jelas): “Ini dia, Vir. Semua bermula pada Aryo Pratama, Ayahmu. Dia bukan hanya Pemegang Saham Utama, dia Otak Skema ini. Dia yang menciptakan kerangka Dana Limbah Fiktif $50 Miliar ini.” ​“Lalu,” lanjut Zen, menunjuk ke nama berikutnya, “ada Alexa Wijaya, Staf Senior Divisi Keuangan kita. Dia adalah Operator Harian Transaksi Haram. Tugasnya? Mengalirkan dana anggaran PGG yang pending secara bertahap ke PT. Karya Bahari Lestari, yang merupakan kantor limbah fiktif mereka.” ​Zen beralih ke koneksi di luar perusahaan, yang lebih pribadi bagi Virian. ​(ucap Zen, matanya menatap Virian penuh iba): “Dan ini koneksi luarnya. Uang limbah itu dicuci bersih melalui PT. Gemilang Beton, sebuah perusahaan infrastruktur besar. Pemiliknya, yang juga Direktur Utama, adalah Bambang Ciptadi—Ayah Bianca. Dia adalah Penyedia Jasa Pencucian Uang Skala Besar, menampung dan memutar uang kotor itu.” ​“Dan tentu saja,” Zen menekankan, menunjuk dengan marah, “Bianca Sasmita, Kepala Divisi Legal PGG. Dia bukan korban. Dia Memfasilitasi Kontrak Hukum Fiktif antara PGG dan PT. Gemilang Beton milik Ayahnya. Dia yang memastikan tender dan kontrak korupsi ini kebal secara hukum.” ​Virian menatap satu nama lagi yang membuat punggungnya dingin. ​(ucap Zen, menunjuk dengan jari gemetar): “Terakhir, Hardian Suryo. Manajer Operasional dan Logistik PGG. Dia orang yang selalu kamu anggap efisien. Hardian adalah Staf Internal Busuk yang Menyetujui Semua Pengadaan Limbah Palsu. Dia memastikan arus uang ke PT. Karya Bahari Lestari lancar, membuat kerugian besar ini terjadi tanpa jejak di internal kita.” ​(ucap Virian, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, memproses pengkhianatan yang mendalam): “Ayah... Bianca... Ayah Bianca... Alexa... Hardian. Selama ini, aku melindungi mereka, sementara mereka mencuri $50 miliar dariku menggunakan jabatannya masing-masing.” ​ ​Tiba-tiba, pesan lain dari Kido masuk ke ponsel Zen, kali ini berupa notifikasi singkat. ​(ucap Kido, dalam pesan singkat): "Bayaran gue? Kirimkan sekarang juga PENGHANCUR KORPORAT itu, CEO. Tuntutan lunas." ​(ucap Zen, keringat dingin mengalir di pelipisnya): “Vir, dia menuntut bayaran kita! Dia ingin master file limbah B3 itu sekarang juga!” ​(ucap Virian, suaranya tenang, penuh kepastian, membalas janji yang telah ia buat): “Zen, segera kirimkan file master limbah B3 Aryo Pratama itu ke Kido. Lakukan sekarang. Deal sudah terlaksana. Dia sudah memberikan kita amunisi paling mematikan di Jayadwipa.” ​Zen dengan tangan gemetar melakukan transfer file rahasia itu, menukar kunci enkripsi dengan kebenaran paling kotor yang PGG miliki. ​ ​(ucap Zen, setelah mengirim): “Vir... kita baru saja menyerahkan kunci pembongkaran PGG kepada seorang hacker.” ​(ucap Virian, segera bangkit, amarahnya berubah menjadi tekad yang dingin): “Kita tidak punya waktu untuk berduka. Kido tidak hanya mengirimkan database. Dia pasti mengirimkan master key dan semua file yang terhapus.” ​(ucap Zen, melihat kembali folder Kido, wajahnya kembali terperanjat): “Ya! Ini lebih gila lagi! Kido berhasil memulihkan semua rekaman CCTV, e-mail yang dihapus, bahkan rekaman suara rapat rahasia mereka! Semua file ini sebelumnya sudah dihancurkan oleh tim legal Bianca!” ​Rekaman yang diselamatkan Kido menunjukkan Arya Pratama, Bianca, dan Alexa bertemu di luar jam kantor, menandatangani dokumen, dan tertawa santai di hadapan kejahatan mereka. Bukti-bukti yang tidak bisa disangkal. ​(ucap Virian, suaranya tajam, setiap kata adalah perintah): “Cepat, Zen. Aku butuh lima salinan back-up fisik, dan dua salinan cloud terenkripsi berlapis. Duplikasikan semua bukti korupsi ini. Gunakan semua hard drive cadangan kita. Sekarang juga!” ​Zen mulai bekerja dengan tangan gemetar, menduplikasi file-file krusial tersebut. Ia mencolok hard drive satu per satu, wajahnya dipenuhi keringat dingin. ​(ucap Zen, setelah mencolok hard drive terakhir dan memverifikasi): “Selesai, Vir. Semua bukti korupsi dan pencucian uang limbah senilai $50 miliar dolar, lengkap dengan file rekaman CCTV dan e-mail mereka, sudah aman di tujuh tempat berbeda. Kita siap.” ​Virian berjalan ke jendela, menatap cahaya fajar yang baru menyentuh cakrawala Kota Jayadwipa. Rasa dikhianati oleh nominal $50 miliar mendorongnya ke batas baru. ​(ucap Virian, suaranya kembali dingin, pandangannya tajam): “Zen, kerugian ini terlalu besar untuk hanya tiga tahun. Cek file PGG milik kita. Pastikan tidak ada yang kelewat. Aku ingin semua laporan dan rekapan 10 tahun lalu hingga sekarang, secara detail dan jelas. Audit total, tanpa ada yang ditutupi.” ​(ucap Zen, mengangguk, raut wajahnya menunjukkan kesiapan, membalas dengan bangga): “Siap, Vir. Aku sudah memprediksi ini. Data arsip dari gudang PGG yang paling dalam sudah ku tarik saat kamu di ruang rapat kemarin. Laporan keuangan komprehensif, due diligence internal, dan semua pengajuan tender sejak sepuluh tahun lalu sudah ada di server cadangan kita. Sekarang kita bisa membandingkan setiap transaksi Aryo Pratama, termasuk pengeluaran kecil. Senjata kita ini tidak hanya menghancurkan tiga tahun, Vir, tapi menghancurkan fondasi mereka.” ​(ucap Virian, terdiam sejenak, menghela napas panjang, bangga pada kesetiaan dan kecerdasan Zen): “Bagus, Zen. Itu baru yang namanya antisipasi. Kita akan masuk ke ruang rapat bukan hanya dengan bukti korupsi, tapi dengan sejarah kebusukan mereka. Kita siapkan tuntutan yang tidak akan memberi mereka celah sedikit pun.” ​(ucap Virian, Virian menyentuh kemeja katun lusuhnya untuk terakhir kali): “Baik. Mereka ingin pertarungan melengserkanku pukul 10.00 pagi. Mereka tidak tahu aku membawa kebenaran yang tidak bisa mereka sangkal, berkat seorang hacker dan seorang penjual bunga buta. Sekarang, kita istirahat sebentar. Lalu, kita siapkan perang.” ​(ucap Zen, menghela napas lega): “Perang akan dimulai, Vir. Dan kali ini, kita tidak hanya menang. Kita akan membersihkan PGG sampai ke akarnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN