David berjalan di lantai sembilan dengan penuh percaya diri. Beberapa pegawai Luxinda yang mengenalnya membungkuk dan menyapanya. David menjawab dengan senyum yang amat manis. Beberapa pegawai wanita dibuat takjub dengan pesona David, sedang yang lain memilih untuk mengagumi dari jauh. Mereka sadari diri untuk tidak bermimpi terlalu tinggi. Setibanya di depan ruangan yang dia tuju, David mengetuk pintu dan langsung masuk. Kebetulan ruangannya tidak tertutup. “Pak David,” sapa Leo. “Leo,” jawab David. “Ada apa pagi-pagi sudah menyempatkan diri untuk datang kemari? Seingatku kita tidak ada janji temu.” Leo masih setia duduk di kursinya dengan pena di tangannya. Mengingat rencana Diana tadi malam, dia bisa memprediksi kedatangan David ke sini. Tapi tetap saja, dia menanyakannya. David