SATU, DUA, TIGA

1620 Kata

“Kamu pasti kembali, kan?”   Ervan mengecup kening Febi sesaat sebelum dirinya pergi meninggalkan dia dan calon buah hatinya di rumah mama di Cilacap. Febi mengangguk dan mengarahkan bibirnya kepada bibir Ervan. Mama mengawasi mereka berdua dari belakang tubuh Febi. Ervan mengecup bibir istrinya singkat. Lagi. Sekali lagi. Lagi. Lalu sedikit lebih lama dan basah. Tangan Febi terlepas dari tangannya. Dia melambai singkat sebelum memasuki travel yang sejak tadi menunggunya. Travel itu pun berlalu membawa Ervan dari halaman rumah Febi. Meninggalkan kosong di d**a Febi.   Dia mendesah panjang. Tangannya mengelus perutnya yang semakin buncit. Masih perlu waktu lebih lama sebelum akhirnya mereka bisa bersama kembali. Mama tidak mengizinkan Febi melahirkan di Tangerang. Akan sulit baginya unt

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN