Bab 19. Pak Husein

1010 Kata
"Bu Sisil, lihat nggak tadi waktu saya menangkap anak-anak yang bolos?" "Pas jam istirahat pertama tadi, Pak? Iya, saya lihat tadi. Keren banget bapak bisa menggiring empat anak yang berhasil ditangkap karena mereka bolos," sahut Sisilia sambil mengacungkan jempolnya. Sementara lawan bicaranya yang tidak lain adalah Pak Husein, guru muda berusia 32 tahun dan berstatus masih lajang itu tertawa pelan hingga matanya sedikit menyipit. "Ibu tahu nggak si Reno itu? Waktu saya kejar dia tadi, nggak sengaja dia kepeleset. Terus, hidungnya langsung nempel sama kotoran kucing. Muntah-muntah dia, Bu, tadi. Sampai saya jujur aja agak panik tadi, mau bawa dia ke rumah sakit karena muntahnya nggak berhenti-berhenti." Pak Husein terkikik dengan tangan yang menutup mulutnya, juga sudut matanya yang sedikit berair menceritakan salah satu muridnya yang tadi sempat melarikan diri dari kejarannya, namun berhasil ditangkap karena tidak sengaja jatuh terpeleset hingga hidungnya menyentuh kotoran kucing yang kebetulan ada di tempat kejadian. Sisilia melongo mendengar perkataan Pak Husein, hingga sedetik kemudian perempuan itu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pelan meja di hadapannya saat membayangkan wajah Reno yang habis mencium kotoran kucing. "Ini seriusan, Pak? Ya ampun, terus gimana keadaannya sekarang?" Pak Husein yang duduk di hadapan Sisilia bersandar pada kursi di hadapannya. Pria itu berdeham sejenak dan menjelaskan dengan tenang dan santai kondisi Reno. "Dia masih lemas di ruang kesehatan. Kualat mungkin karena dia lari-lari. Coba aja kalau dia nggak lari-lari, nggak mungkin dia jatuh dan mencium aroma yang menyegarkan." Pak Husein tertawa. "Dia lagi lemas. Udah saya suruh buat isi perut lagi dan udah saya belikan makanan. Eh, katanya beberapa hari ke depan dia lagi nggak mood buat isi perut. Nggak kebayang kalau dia masih terbayang-bayang sama aroma itu," kekehnya. "Haha, Reno ada-ada aja. Untung aja yang menangkap mereka tadi Pak Husein, coba kalau saya? Bah! Pasti saya bakalan banyak ketawa dan nggak bakalan kuat buat bawa dia ke ruang kesehatan." Sisilia menyentuh perutnya yang terasa keram akibat tertawa. Ya Tuhan, maafkan dirinya mempertawakan kemalangan orang lain. Hanya saja cerita Pak Husein benar-benar lucu. Di dalam ruangan itu hanya ada Pak Husein dan juga Sisilia. Sementara guru yang lain sedang berada di luar ruangan. Keduanya tampak sibuk mengobrol hingga tidak menyadari ada satu sosok manusia yang kini berdiri di ambang pintu menatap keduanya yang tampak akrab. Ekspresi wajahnya yang tenang berubah dingin, dengan aura menakutkan yang keluar dari tubuhnya. Udara terasa sangat dingin, hingga membuat Sisilia yang sedang asyik mengobrol tiba-tiba mengusap tengkuknya. "Bu Sisil kenapa? Sakit?" Pak Husein menegakkan tubuhnya menatap Sisilia dengan meletakkan kedua sikunya di atas meja sambil menatap wanita cantik di hadapannya ini. Sisilia yang ditanya memberikan respon dengan gelengan kepala. Perempuan cantik itu menjawab, "nggak apa-apa, Pak. Tadi tiba-tiba aja bulu kuduk saya merinding." "AH, jangan-jangan ada hantu lagi di sekitar kita," balas Pak Husein, menakuti Sisilia. Namun, bukannya takut perempuan itu justru terkekeh. "Ngapain takut sama hantu, Pak? Takut itu sama hati manusia, karena kita nggak akan pernah tahu kedalaman hati mereka seperti apa." Sisilia terkikik hingga tatapannya tak sengaja tertuju pada sosok David yang kini sedang melangkah ke arah meja tempat mereka berada dengan membawa buku di tangannya. "Kelas Pak David sudah selesai?" Sisilia bertanya seraya mengangkat sebelah alisnya, menatap David yang tiba-tiba saja menarik kursi di sebelahnya dan mendekatkannya dengan kursinya. "Baru saja selesai, Mbak. Mbak Sisil kelihatan asik sekali mengobrol," jawab David, menatap Sisilia. Lalu, tatapannya ia layangkan pada Pak Husein yang duduk dengan sebuah meja sebagai pembatas. "Iya, nih. Pak Husein lagi cerita soal murid yang tadi kabur terus nggak sengaja ditangkap sama Pak Husein," jawab Sisilia. "Gimana mengajarnya, Pak David? Anak-anak 11 E itu mereka pada nakal-nakal. Kalau kita yang nggak sabar, kita yang bakalan emosi." Pak Husein mencoba berbicara dengan David karena ia tahu jika jadwal mengajar pemuda di hadapannya ini berada di kelas 11E yang memang terkenal dengan anak-anak nakalnya. "Lancar aja, Pak. Mereka cukup mengerti dengan mata pelajaran yang saya berikan. Untungnya nggak ada keributan." David menjawab dengan tenang. Jelas tidak ada keributan karena anak nakal sekalipun jika sudah ditatap dengan tatapan tajam dan dingin seorang David Jackson, pasti akan ketakutan. Aura ini akan dimiliki oleh seseorang yang tentunya di manapun ia berada akan disegani. Bukan karena tampangnya, namun karena pengalaman hidupnya yang sudah sering bertemu dengan banyak orang. Mereka bertiga mengobrol dengan santai tentunya lebih banyak obrolan antara Sisilia dan juga Pak Husein hingga membuat David yang duduk di sebelah Sisilia tentunya merasa tidak senang karena perhatian perempuan di sebelahnya hanya tertuju pada Pak Husein. Beruntungnya Pak Husein tidak mengobrol terlalu lama karena pria itu ternyata ada jam mengajar di kelas lain. Maka dari itu yang tinggal di dalam ruangan ini adalah Sisilia dan juga David. "Mbak sepertinya bahagia sekali mengobrol dengan Pak Husein." David membuka pembicaraan setelah beberapa menit terjadi keheningan. Sementara Sisilia yang saat ini sedang memeriksa buku catatannya langsung menolehkan kepala menatap David dengan sebelah alis terangkat. Tidak mengerti mengapa pemuda di sebelahnya tiba-tiba berbicara seperti ini. "Oh, ngobrol dengan Pak Husein tadi? Memang seru, soalnya ada aja pembahasan Pak Husein yang bikin tertarik," balas Sisilia. "Mbak suka dengan Pak Husein?" Kali ini kening Sisilia langsung berkerut dengan pertanyaan David yang menurutnya agak aneh. "Enggak." Sisilia menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu bisa berpikir kalau saya bakalan suka dengan Pak Husein?" David tidak buru-buru menjawab. Pemuda itu hanya menatap lekat wajah Sisilia, terutama matanya ketika membalas tatapan matanya hingga membuat jantung perempuan itu sedikit berdebar dengan nuansa aneh yang tiba-tiba terasa. Sisilia berdeham kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah lain, enggan untuk berlama-lama membalas tatapan David. "Soalnya Mbak kelihatan nyaman sekali ngobrol dengan Pak Husein. Aku mengira kalau mbak mungkin ada rasa suka dengan Pak Husein." Olivia terkekeh dengan penuturan yang disampaikan oleh David. Perempuan cantik itu menggelengkan kepalanya. "Enggak lah. Lagian juga, saya bisa dengan santai ngobrol dengan siapa saja. Ngobrol panjang lebar sambil ketawa, bukan berarti karena ada perasaan suka. Lagian Pak Husein itu rekan kerja." Mendengar itu David mengangguk-nganggukkan kepalanya, seolah-olah ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh perempuan di sebelahnya. Tangannya yang memegang pulpen sedikit dicengkram, dengan rasa tidak terima melihat Sisilia yang berbicara dan bahkan tertawa dengan pria lain selain dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN