Bab 18. Mimpi Buruk

998 Kata
Malam itu terasa sangat mencekam. Angin yang berhembus menerpa kulit, tidak membuat sosok perempuan dengan gaun putih merasa menggigil ataupun kedinginan. Hanya ada rasa takut dan juga kegelisahan yang tidak ada akhirnya kala sosok perempuan itu terus berlari di malam yang gelap, melewati bangunan-bangunan kosong yang sepertinya sudah lama tidak berpenghuni. Suara anjing menggonggong terdengar dari kejauhan. Suara burung hantu dengan maraknya berkicau di langit. Langit yang gelap tidak akan bisa menahan sosok perempuan yang terus berlari dari kejaran seorang pria misterius yang mengenakan setelan berwarna hitam dengan kepala tertutup. "Ini di mana sekarang?" Perempuan itu adalah Sisilia, mengedarkan pandangannya ke sekitar, berusaha untuk mencari tahu di mana dirinya sekarang berada. Namun, dirinya tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Gedung-gedung yang terbengkalai yang berada di sisi kiri dan kanannya seolah-olah tidak pernah ada di dunianya. Peluh sudah membasahi tubuhnya sambil terus berlari dengan suara langkah kaki di belakangnya yang berusaha untuk mengejarnya. Sisilia menolehkan kepalanya ke belakang, membelalakkan matanya ketika menemukan sosok pria bertubuh tinggi dengan jaket hitam yang menutupi tubuh dan juga kepalanya, kini sudah dekat jaraknya di belakangnya. Sisilia menelan ludahnya. Padahal ia merasa ia sudah berlari cukup kencang dari sosok menyeramkan yang terus mengejarnya. "Terus lari, Sil. Nggak boleh nyerah dan nggak boleh sampai ditangkap sama orang itu. Kayaknya itu psikopat!" Sisilia menyemangati dirinya sendiri, sambil terus berlari, namun sosok itu tetap ikut berlari dan kini sudah semakin mendekat. Bulu kuduk Sisilia langsung berdiri, pinggangnya terasa nyeri ketika langkah kaki sosok itu semakin dekat sampai kemudian kedua tangan pria itu kini tiba-tiba saja sudah melingkar di perutnya. "Kena kamu!" "Aaa!" "Sisil! Ini tengah malam, bisa nggak kamu nggak usah teriak-teriak? Kalau mau konser itu besok aja, suara kamu itu nggak bagus teriak malam-malam." Sisilia yang berbaring di atas tempat tidurnya langsung membuka kelopak matanya dengan penuh ketakutan. Ekspresi panik dan juga keringat yang sudah membasahi tubuhnya pertanda jika ia seolah baru saja berlari dengan kecepatan penuh yang ia miliki. Tiba-tiba lampu kamarnya menyala terang, terlihat sosok Debora yang berdiri di dekat pintu dengan pintu kamar yang sudah dibuka, sambil bersandar pada tembok di belakangnya, menatap Sisilia dengan tatapan malas. Sisilia berusaha untuk mengatur napasnya. Wajahnya terlihat sangat pucat, bermimpi buruk tentang dikejar seseorang yang tidak dikenal olehnya. "Kamu mimpi buruk? Mimpi dikejar sama Fahmi?" Debora bertanya dengan sebelah alis terangkat. Perempuan itu segera mengambil air minum dan kembali ke kamar untuk menyerahkan segelas air minum pada sahabatnya yang masih terduduk di atas tempat tidur. Mungkin masih syok dengan mimpi yang dialaminya, pikir Debora di dalam hati. "Sembarangan kamu. Mana mungkin aku mimpi tentang mantan aku itu." Sisilia menyerahkan gelas bekas minumannya pada Debora. "Aku mimpi dikejar-kejar sama laki-laki yang nggak aku kenal. Mimpinya kayak nyata banget tadi," jelas Sisilia. Perempuan cantik itu berusaha untuk mengatur napasnya yang mulai tenang. "Kamu mimpi dikejar sama laki-laki misterius? Ganteng nggak mimpinya? Terus seru nggak mimpinya? Apa mungkin di dalam mimpi itu laki-laki itu ganteng banget? Iya?" Debora mengangkat alisnya menatap Sisilia, yang langsung memasang wajah cemberut ketika mendengar pertanyaan beruntun darinya. "Mimpinya buruk, Debora. Mimpi di kejar sama laki-laki misterius yang wajahnya nggak kelihatan. Mana ada mimpi indah," kata Sisilia menatap jengkel Debora. "Kamu ngapain ada di kamar aku? Kok, kamu bisa masuk ke kamar aku?" Debora yang ditanya meletakkan gelas di atas meja kemudian mendudukkan dirinya di atas tempat tidur Sisilia sambil menatap sahabatnya itu. Sisilia mengenakan piyama satin berwarna abu-abu dengan rambutnya yang tergarai. Rugi sekali mantan suaminya Sisilia yang tega-teganya menghianati sahabatnya demi perempuan lain yang background kehidupannya saja tidak jelas. "Aku lagi scroll video tadi di ruang tamu. Terus nggak sengaja dengar suara kamu, makanya aku langsung masuk ke kamar kamu. Kamu ini kebiasaan kalau pintu kamar nggak pernah terkunci. Nah, kalau ada maling yang masuk rumah kamu, bakalan susah kamu," kata Debora menatap sahabatnya. "Belum ada maling yang masuk rumah aku. Lagian juga, berani banget mereka masuk ke area komplek rumah ini. Ini dijaga ketat sama security, nggak berani maling masuk," sahut Sisilia. "Yah, kamu nggak tahu kalau ada yang namanya tanggal apes. Bisa aja 'kan ada penjahat yang tiba-tiba datang?" Sisilia menggelengkan kepalanya sekali lagi dengan pemikiran Debora. Perempuan itu menatap jam di di layar handphonenya, kemudian berdecak sambil menatap sahabatnya. "De, yang benar aja ini udah hampir jam 2 malam. Kamu belum tidur juga? Hobi banget kamu begadang," kata Sisilia sambil menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Debora setiap malam begadang, membuatnya takut jika sahabatnya ini bisa drop dan sakit. "Mau gimana lagi, insomnia aku semakin parah. Aku nggak bisa tidur kalau nggak benar-benar ngantuk." Tiba-tiba saja Debora menguap. "Nah, sekarang ini aku mengantuk, jadi aku mau tidur dulu. Bye!" Debora dengan santai berlalu pergi meninggalkan kamar Sisilia dan perempuan itu yang masih terduduk di tempat tidurnya. Sisilia menggelengkan kepalanya melihat sikap Debora yang memang terkadang random. Matanya masih mengantuk membuatnya memutuskan untuk tidur lagi karena hari masih malam. Tentunya aktivitas Sisilia tidak pernah luput dari jangkauan dan pantauan sosok pemuda yang duduk di kursinya dengan layar yang menghadap padanya. Terlihat Sisilia yang sudah mulai memejamkan matanya, dan tertidur pulas. Sosok pemuda yang tidak lain adalah David tersenyum, dengan tangan membelai layar soalnya ia saat ini sedang membelai wajah Sisilia. Senyum tersungging di bibirnya. "Nanti kalau kita udah bersatu, kamu nggak akan mengalami mimpi buruk lagi. Iya 'kan, Sayang?" Pemuda itu bergumam pada layar seolah sedang berbicara dengan perempuan yang saat ini sedang terlelap. Ini adalah salah satu aktivitas paling menyenangkan baginya karena ia bisa memantau pujaan hatinya yang tertidur lelap. Katakan dirinya tidak waras, namun ia tidak peduli karena baginya Sisilia adalah hidupnya sehingga ia tidak akan mentolerir siapapun yang berani untuk melukai pujaan hatinya. David juga bertekad dan berjanji di dalam hatinya jika ia akan segera mendapatkan persetujuan Sisilia untuk menjadi kekasih perempuan muda ini. Tidak masalah jika statusnya adalah seorang janda, karena status tidak akan menghalangi cinta dan juga keinginannya untuk memiliki Sisilia. Dulu, ia mengalah dengan membiarkan Sisilia mengejar cintanya sampai ke jenjang pernikahan. Namun, setelah tahu perempuan itu bercerai dari suaminya, David tentunya langsung mengambil kesempatan untuk mendekatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN