Seorang pria paruh baya berdiri di belakang seorang pemuda yang saat ini tangannya dengan lincah dan cepat bergerak dengan tatapan fokus pada layar yang menampilkan angka-angka juga huruf dengan kecepatan penuh sehingga membuat pria itu merasa matanya akan sakit jika terus menatap layar lebih dari 30 menit.
Detik dan menit berlalu begitu saja sampai akhirnya jari pemuda yang terus berada di atas keyboard laptop akhirnya berhenti dengan sendirinya sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi di belakang, dengan ekspresi wajahnya yang terlihat datar.
Pemuda itu menatap ke arah pria di sebelahnya. "Sudah selesai diperbaiki bug sistemnya. Sistem juga sudah diperbaiki, nggak akan ada kerusakan lagi," kata pemuda itu dengan tenang.
"Terima kasih banyak, Tuan David. Kalau nggak ada Tuan David, pasti saya akan kebingungan mencari solusi dari masalah yang terus terjadi," jawab pria paruh baya itu. Tidak lupa tangannya mengusap peluh di dahinya dengan tisu yang sengaja ia bawa.
Berhadapan dengan pemuda yang lebih muda beberapa tahun darinya ini tentu membuat pria paruh baya yang tidak lain adalah Pak Rully benar-benar berpacu pada adrenalin.
Hei, gaji secuil di toko mereka tentu tidak akan bisa mempekerjakan pemuda yang keberadaannya sangat dicari oleh para perusahaan besar hampir di beberapa negara.
Beruntungnya ia berhasil menemukan pemuda ini dan kebetulan pemuda ini memang membutuhkan toko tempatnya bekerja untuk menjadi teknisi.
Entah apa yang dicari oleh pemuda bernama David Jackson ini di toko, namun yang pasti kehadiran pemuda ini cukup membantu mereka.
"Hubungi aku lagi kalau ada sesuatu. Kamu tahu ke mana kamu harus menghubungi aku?"
"Tahu, Tuan. Di tempat Bu Sisilia. Eh, maksudnya di kos-kosan tempat Bu Sisilia." Pak Rully menjawab dan mengoreksi kata-katanya yang salah. Sementara David menganggukkan kepalanya, kemudian tak sengaja tatapannya tertuju pada sosok yang kini sudah melangkah ke arah ruangan di mana pintu yang memang tidak ditutup oleh mereka.
Melihat kehadirannya, David langsung menegakkan tubuhnya dan menggerakkan jari-jarinya, lalu mulai mengerjakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Pak Rully.
"Tuan David? Apakah ada masalah?" Pak Rully bertanya karena dia tidak melihat keberadaan Sisilia yang datang.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan David. Panggil nama aja di depan Sisilia." David berkata dengan suaranya yang pelan dan beruntung masih bisa didengar oleh Pak Rully. "Ingat, katakan padanya kalau sistem ini agak lama untuk diperbaiki," lanjutnya.
Tidak lupa memberi peringatan pada Pak Rully dengan lirikan matanya yang membuat pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu di mana Sisilia berdiri di depan pintu yang sudah terbuka.
"Kata anak-anak ada masalah dengan sistem di toko? Sudah selesai diperbaiki?" Sisilia melangkah masuk ke dalam, sambil mengenakan terusan celana berwarna hitam dengan lengan pendek, menghampiri keduanya yang kini sedang duduk di meja menghadap pada layar di hadapan mereka.
Ada komputer, laptop, dan beberapa jenis elektronik lainnya yang tersusun di atas meja. Ada David yang menatap serius pada layar di hadapannya dengan jari-jarinya yang bergerak dengan lincah di atas keyboard, juga Pak Rully yang berdiri di sebelahnya dengan wajah tak kalah serius.
Kehadiran wanita itu tentunya mengalihkan perhatian dua orang yang sedang pura-pura fokus ke arah Sisilia saat ini berada.
"Ini lagi diperbaiki sistemnya. Prosesnya memang agak lama, tapi saya yakin kalau David pasti bisa melakukannya." Pak Rully terkekeh sambil menepuk pundak David pelan. Jantung pria paruh baya itu bergetar hebat merasakan ketegangan yang luar biasa saat menepuk pundak dari tuan muda ini. "Bu Sisil mau lihat-lihat? Kebetulan saya juga lagi mau keluar. Takutnya nggak ada yang mengawasi David dalam bekerja."
Sebagai orang yang sudah dewasa tentunya Pak Rully paham jika David melakukan ini mungkin karena ingin dekat-dekat dengan owner toko tempatnya bekerja.
"Ya sudah nggak apa-apa, kebetulan saya juga menganggur."
Hari ini adalah hari libur. Pembukaan jualan pakaian dan juga aksesoris perempuan milik Sisilia akan dibuka di hari dan tanggal yang sudah ditentukan olehnya.
Kemungkinan besok ataupun lusa rencananya akan segera dimulai dengan anak-anak kos bisa menjual pakaian milik Sisilia dan tentunya gaji ataupun fee mereka sudah ditentukan olehnya.
Itupun kalau mereka mau karena Sisilia sendiri tidak memaksa. Jika mereka tidak mau juga tidak masalah baginya. Sisilia hanya membuka peluang bagi anak kost di tempatnya yang belum mendapatkan pekerjaan atau yang masih kuliah dan sekolah untuk menghasilkan uang dengan cara yang benar.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu," ucap Pak Rully.
Segera pria itu melangkah keluar dengan terburu-buru meninggalkan dua orang dengan gender yang berbeda dan juga status yang berbeda.
Sesampainya di luar, Pak Rully akhirnya bisa mendesah lega karena di dalam ruangan meskipun terlihat sangat luas, namun aura yang ditampilkan oleh David memang tidak biasa bagi seorang rakyat jelata seperti dirinya.
Melihat sekali lagi ke dalam ruangan dengan ukuran 4 kali 6 meter yang hanya diisi oleh lemari susun dengan buku-buku yang tersusun cantik, satu set meja dan jangan lupakan perlengkapan komputer yang saat ini sedang berada di depan David.
Tatapan Sisilia langsung tertuju pada tangan David, terlihat sangat gagah menurutnya. Belum lagi wajahnya yang tampan ketika menampilkan ekspresi serius, membuat pikiran Sisilia berkelana, sebelum akhirnya ia menepuk tulang pipinya sendiri, berusaha mengenyahkan pikiran aneh yang tiba-tiba merasukinya.
"Nggak usah mikirin yang aneh-aneh, Sil. Sadar, laki-laki itu racun dunia," gumam Sisilia pada dirinya sendiri.
Kepala David menoleh ke samping menatap Sisilia yang tiba-tiba saja sudah menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
"Mbak Sisil ngomong apa?" David bertanya, dengan sebelah alis terangkat, dan gayanya yang terlihat keren membuat Sisilia tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
"Nggak ngomong apa-apa. Kamu lanjut aja kerjanya," jawab Sisilia.
David yang mendengarnya menganggukkan kepala, kemudian pura-pura serius untuk melanjutkan tugasnya yang sebenarnya tidak ada sama sekali. Hanya saja David ingin berada di dekat Sisilia terus-menerus seperti sekarang ini.
2 jam duduk dengan tenang di kursi sambil memainkan ponselnya, membuat Sisilia akhirnya merasa jenuh.
Tepat pada saat ia akan membuka suara, tiba-tiba David merenggangkan tubuhnya, membuat otot dadanya terlihat jelas dari balik ke meja putih yang dikenakan oleh pemuda ini.
"Mbak Sisil kecapean nunggu aku? Ini sudah selesai," kata David, menolehkan kepalanya menatap Sisilia. Ekspresi wajahnya terlihat polos, membuat Sisilia tersenyum canggung.
"Syukurlah kalau sudah selesai. Aku juga harus pulang karena Debora sudah menghubungiku dari tadi."
"Kalau begitu pulang bersama saja. Aku juga kebetulan mau pulang."
Keduanya melangkah keluar dari ruangan diikuti tatapan Pak Rully yang menatap mereka sedikit dari kejauhan.
Pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya. "Bisa betah juga duduk 2 jam nggak ngapa-ngapain. Ck, cinta zaman sekarang," timpalnya pada dirinya sendiri.
Pak Rully kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara dua orang yang sejak tadi berada di dalam ruangan kini sudah kembali ke tempat mereka yang tentunya meninggalkan cerita bagi Pak Rully mengetahui jika ternyata tujuan David untuk datang dan bekerja di toko kecil mereka untuk dekat dengan pemilik toko.
Mungkin.