Debora duduk dengan santai di sofa menatap sahabatnya yang sedang sibuk memindah-mindahkan barang karena nanti akan membongkar rak yang dibeli dan siap untuk dipasang sendiri.
Debora tadi sudah berniat untuk membantu, namun Sisilia langsung menahannya dan tidak membiarkannya menyentuh apapun barang yang ada di dalam rumah ini.
"Padahal aku niatnya mau bantu kamu." Debora berkata dengan santai pada Sisilia, yang bersusah payah menyingkirkan tumpukan baju agar rak yang dirakit bisa ditempati.
"Kamu bukannya bantu aku tapi justru semakin buat acak-acak. Nggak deh terima kasih, tuan putri. Nggak cocok kamu bawa barang berat-berat," balas Sisilia. Meminta bantuan dengan Debora sama saja bekerja dua kali. Debora hidup dilayani sejak kecil, tidak pernah melayani orang. Jadi, Jangan harap perempuan kaya raya satu ini bisa mengerjakan pekerjaan rumah.
"Kamu mau rakit sendiri raknya? Memangnya kamu bisa?"
"Makanya belajar dan lihat tutorial. Sekarang ini apa-apa mudah, asal mau belajar."
Satu jam berlalu begitu saja, namun rak yang seharusnya sudah dirakit sedikit demi sedikit masih tetap seperti semula.
Debora bangkit dari tempat duduknya, menghela napas melihat hasil pekerjaan sahabatnya, yang memang tidak ada hasilnya.
Segera perempuan itu melangkah keluar dari rumah sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar dan menemukan sosok David yang baru saja tiba dari toko depan.
Sahabatnya bilang jika David bekerja sebagai teknisi karena tidak bisa berjam-jam berada di toko. Jadi, jika ada kesalahan teknis pada program dan lain-lainnya, maka David dibutuhkan kehadirannya.
"David! Kamu tadi dipanggil sama Sisil, masuk gih." Debora dengan asal berteriak memanggil David membuat pemuda itu menoleh kemudian segera menghampiri rumah Sisilia yang memang pintunya terbuka.
"Mbak Sisil panggil aku untuk apa, Mbak?"
"Dia minta tolong buat bantu dia rakit rak. Kamu nggak keberatan 'kan?" Debora menatap David dengan sebelah alis terangkat. Dari gelagat pemuda di hadapannya ini tentu saja Debora sudah tahu jika David sepertinya menyimpan rasa untuk Sisilia, sahabatnya. Maka tidak salah jika ia meminta tolong David agar bisa membantu Sisilia, anggap saja sebagai bentuk pendekatan, pikirnya di dalam hati.
"Boleh deh. Tapi, aku mandi dulu."
Debora menganggukkan kepalanya kemudian masuk kembali ke dalam rumah Sisilia sementara David langsung menuju kos-annya untuk membersihkan diri seperti apa yang dikatakannya pada Debora.
"Kamu nggak usah pusing-pusing buat mikirin gimana cara masang raknya. Nanti bala bantuan bakalan datang," kata Debora. Kembali mendudukkan dirinya di sofa yang sempat menjadi singgasananya sebelum tadi ia pergi keluar mencari bantuan.
"Kamu memangnya minta tolong sama siapa? Jangan bilang sama damkar," timpal Sisilia menoleh kepalanya menatap sahabatnya.
"Tenang aja. Ini lebih dari sekadar damkar. Kalau damkar memadamkan api, kalau yang satu ini menyalakan api. Api-api asmara."
Sisilia mendengus mendengar penuturan sahabatnya yang memang tidak ada korelasinya sama sekali dengan keadaannya saat ini.
20 menit kemudian, sosok yang tidak diduga oleh Sisilia tiba-tiba berdiri di depan pintu membuatnya bertanya-tanya tujuan sosok itu kini berada di depan rumahnya.
Belum sempat Sisilia bertanya, Debora yang sedang bersantai langsung menegakkan tubuhnya, menatap David dengan senyuman.
"Nah, ini dia bala bantuan yang kamu butuhkan. Dijamin pekerjaan kamu bakalan selesai," katanya pada Sisilia.
Baru pada saat itulah Sisilia menyadari jika sahabatnya ini meminta bantuan pada David, anak kos-nya.
"Kamu merepotkan orang, Deb."
"Nggak merepotkan sama sekali kok, Mbak. Kebetulan aku juga nggak ada kerjaan, makanya aku siap bantu mbak." David melangkah masuk setelah melepaskan sandalnya. "Mbak mau minta tolong untuk pasang rak-rak ini? Boleh, deh. Alat-alatnya sudah ada semua?"
Sisilia menganggukkan kepalanya sebagai respon.
"Semua alatnya sudah ada semua. Tenang aja, tukang pun sungkem sama aku karena peralatan tukang milikku jauh lebih lengkap," jawab Sisilia yang memang tidak bohong sama sekali.
Dirinya memiliki banyak alat tukang karena memang sering digunakan terutama saat ia dalam proses pembangunan kos-annya.
David menganggukkan kepalanya. Segera pemuda itu mulai menata dan merakit pelan-pelan rak besi yang dibeli oleh Sisilia beberapa waktu yang lalu.
Melihat David yang bekerja untuknya, juga Debora yang pasti sebentar lagi akan berteriak kelaparan, Sisilia berinisiatif untuk membuat makanan.
Hari sudah sore memang sudah sewajarnya ia memasak. Melihat nasi yang masih banyak di dalam rice cooker, Sisilia memutuskan untuk memasak lauk. Beruntung ada ikan dan juga ayam yang sudah ia bumbui di dalam kulkas. Lalu, membuat tumis kol yang dicampur dengan udang, membuat aroma masakan menyeruak ke penjuru ruangan.
Sisilia sudah bertanya pada David tentang alergi yang mungkin saja dialami oleh pemuda itu. Beruntungnya, David tidak memiliki alergi sama sekali sehingga membuatnya bisa dengan bebas mencampurkan makanannya dengan udang.
Ada sambal yang baru saja ia buat dengan tomat yang baru dibeli hingga aroma sambal dengan dicampurkan terasi semakin menggugah selera sehingga membuat Debora merasa lapar.
"Untung aja tadi aku nggak sempat untuk pesan makan di restoran. Jadi makan masakan kamu, nggak rugi-rugi banget," ujar Debora.
"Ngapain kamu pesan makanan di restoran segala kalau aku bisa masak?" Perempuan cantik itu menatap sahabatnya. "Nanti kamu makan aja di sini. Kamu masih mau bermalam di sini?"
"Untuk sementara aku bakalan tinggal di sini. Terus kalau soal pakaian, pakaian aku banyak di dalam lemari."
"Iya. Udah nggak aneh lagi kalau banyak pakaian kamu di lemari."
Debora memiliki lemari tersendiri di dalam kamarnya sehingga ia bisa menyimpan baju-bajunya di dalam lemari. Sering bermalam dan bahkan tinggal bersamanya, membuatnya menjadikan rumah Sisilia sebagai rumah ketiganya.
Pertama adalah rumahnya bersama kedua orang tuanya, kedua adalah apartemennya, dan ini adalah Sisilia.
Ketiga orang yang berada di dalam rumah itu tentunya membagikan diri dengan kesibukan mereka masing-masing.
David dengan raknya, Sisilia dengan masakannya, dan Debora yang bersantai sambil memainkan ponselnya.
"Masakannya udah selesai semua. Kita makan dulu, nanti lanjut lagi aja kerjanya," kata Sisilia mendekati David.
Sudah ada satu rak yang terpasang dengan sempurna, membuatnya tersenyum.
"Kenapa nggak dari tadi? Aku udah lapar."
Debora segera bangkit dari tempat duduknya menuju meja yang memang berada di dapur.
Debora mengambil posisi duduk dengan satu kursi yang menghadap ke arah meja. Hanya menyisakan dua kursi yang menghadap ke arahnya, membuat Sisilia mau tidak mau duduk di sebelah David.
David sendiri mulai mengambil piringnya, dengan cekatan, ia mengisi piring dengan lauk kemudian memindahkannya ke hadapan Sisilia yang baru saja akan mengisi piringnya sendiri.
"Eh?" Sisilia menoleh dengan ekspresi terkejut, membuat David membalas senyumannya.
"Aku bantu Mbak Sisil untuk isi piring Mbak. Mbak nggak marah 'kan?"
Sisilia menatap piringnya kemudian beralih menatap David, lalu menganggukkan kepalanya.
"Nggak marah. Terima kasih." Perempuan cantik itu kemudian mengisi piring lagi dengan nasi dan lauk lalu ia berikan pada David, yang menyambutnya dengan senyum manis hingga membuat Sisilia tertegun.
Hei, baru disadari olehnya jika David memiliki wajah yang tampan dengan senyum manis yang memesona hingga membuat jantungnya sedikit berdebar.