"Deb, kalau kamu udah mau pergi, kunci rumah jangan lupa dititipin sama anak toko aja. Jangan kamu bawa pergi kayak beberapa minggu lalu."
Sisilia berkata pada Debora yang baru saja bangun dari tidur, padahal dirinya sendiri sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Terlihat mulut sahabatnya yang terbuka menguap malas dengan rambut acak-acakan yang ingin sekali Sisilia sumpal dengan pisang goreng panas.
"Kamu kalau nguap kayak gini di depan cowok, dijamin bakalan ilfil orang-orang sama kamu," timpal Sisilia lagi.
Debora membuka kelopak matanya dengan malas. "Bukannya ilfil, mereka pasti bakalan klepek-klepek sama gaya seksi aku waktu menguap."
Sisilia yang mendengar penuturan sahabatnya pura-pura memasang wajah mual sehingga membuat Debora sekali lagi mengeluarkan desahannya hingga membuat Sisilia bergidik geli.
"Kamu ingat apa yang aku bilang tadi? Kunci rumah jangan kamu bawa. Titipin ke anak toko atau nggak ke pak Rully. Mengerti, Debora?"
"Iya-iya. Bawel banget kamu," sungut Debora dengan wajah cemberut.
"Bukan apa-apa. Ingat beberapa minggu yang lalu kamu bawa kunci rumah aku sampai ke luar negeri. Kamu bisa liburan selama seminggu di luar negeri sementara aku harus tinggal sama anak kosan aku, gara-gara kamu."
"Kamu sendiri yang buat diri kamu sulit. Tinggal kamu dobrak aja pintunya terus ganti, semua masalah akan beres."
"Nggak semua masalah harus diselesaikan dengan kekerasan, Debora." Sisilia mendelik. "Sarapan kamu udah aku beli tadi. Aku mau langsung berangkat, nanti telat lagi ke sekolah."
"Hati-hati di jalan, bu guru."
Tersenyum tipis, Sisilia mengangguk kemudian melangkah keluar dari rumahnya dan sedikit dikejutkan dengan kehadiran David yang ternyata sudah menunggunya di teras rumah, duduk di kursi yang tersedia.
"Eh, jadi mau nebeng sama saya?"
David yang ditanya menganggukkan kepalanya. "Jadi, Mbak. Kalau mbak nggak keberatan nanti aku yang bawa motornya. Tapi, kalau mbak keberatan, nggak apa-apa nanti aku yang duduk di belakang."
"Ih, mana bisa begitu. Nanti aku duduk di belakang dan kamu yang bawa motornya."
Sisilia kemudian menyadari jika ia menggunakan kata 'aku' untuk lawan bicaranya yang biasa menggunakan kata tersebut untuk menyebutkan diri sendiri.
Menggelengkan kepalanya, perempuan itu mengeluarkan kunci motornya dari dalam tas dan melemparkannya pada David yang langsung menyambutnya.
Segera David ke garasi samping dan mengeluarkan motor milik Sisilia. Baru kemudian Sisilia duduk di belakang dengan menghadap pada punggung David.
Beruntung Sisilia mengenakan celana panjang sehingga ia tidak terlalu kesulitan untuk duduk menghadap langsung pada punggung pengendara motor di hadapannya ini.
Baru saja motor akan menyala ketika mendengar suara Debora berteriak memanggil Sisilia, membuat keduanya spontan menatap ke arah perempuan yang baru saja bangun tidur itu dan saat ini sedang berdiri di teras rumah, bersandar pada pilar di sampingnya.
"Kalian berdua udah cocok. Kalau kalian jadi pasangan suami istri, bakalan seru bisa berangkat dan pulang kerja bareng."
Dua respon berbeda diberikan kepada Debora. Sisilia dengan wajah cemberutnya, dan David yang diam-diam menahan senyum mendengar pernyataan Debora yang sangat enak didengar.
"Mendingan kamu mandi sana terus sarapan. Ingat apa kata aku tadi, Deb, kalau--"
"Kunci rumah dititipin sama anak toko kalau aku pergi dari rumah ini. Kamu ngomongnya udah tiga kali ini, Sil. Aku nggak pikun juga," sela Debora memotong pembicaraan Sisilia.
Sisilia tersenyum memberi kode pada David untuk segera melajukan kendaraan roda dua mereka menuju sekolah.
Tak lama setelah kepergian keduanya, sosok Bagaskara muncul.
"Bu, Bu Sisil sudah berangkat?"
"Ba, Bu, Bi. Kamu kira saya ini udah ibu-ibu apa?"
"Oh, salah panggil berarti." Bagaskara menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kalau begitu saya ulang lagi pertanyaannya. Nyonya Tua, Bu Sisil udah berangkat belum?"
Debora langsung mendelik mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh anak SMA di hadapannya. Tak menjawab pertanyaan Bagaskara, Debora langsung berbalik masuk ke dalam rumah Sisilia dan menutup pintu dengan keras, meninggalkan Bagaskara yang mengusap dadanya.
"Untung aja gue masih muda, nggak punya penyakit jantung. Kalau gue punya penyakit jantung pasti sudah meninggal mendadak gara-gara nenek tua satu ini, sensitif banget."
Siang ini cuaca begitu terik, memang paling enak kalau harus minum yang dingin-dingin. Masalahnya, Sisilia sedang malas untuk pergi ke kantin mencari minuman yang dingin. Maka dari itu, perempuan cantik itu memilih untuk bersantai di dalam ruangan yang memang ber-AC.
Hanya ada dirinya seorang diri karena guru yang lain sedang ikut rapat ataupun makan di ruangan lain.
Sekolah ini memang menyediakan ruang khusus untuk guru-guru menikmati makan siang mereka.
Bukan mau membeda-bedakan dengan murid, karena kalau harus antre dengan murid-murid, terlalu kasihan. Murid pasti akan mengutamakan guru, maka dari itu mereka lebih banyak membawa makan siang sendiri ataupun membeli dari luar yang dimakan di dalam ruangan khusus.
Saat sedang bersantai sambil memainkan ponselnya, tiba-tiba saja kehadiran David sedikit mengejutkan Sisilia karena mengira pemuda itu saat ini sedang makan bersama guru-guru yang lain.
Periode kedatangan tamu bulanan membuat Sisilia malas untuk bergerak. Maka dari itu meskipun perutnya lapar, tidak ada niat sama sekali untuk membeli makanan ataupun minuman meskipun harus meminta tolong orang.
"Mbak Sisil pasti belum makan siang 'kan? Kebetulan tadi aku pesan makanan 2 porsi dan nggak habis. Satunya untuk Mbak Sisil dan satunya untuk aku. Sama minuman dinginnya dua. Mbak Sisil mau minum boba atau jus jeruk?"
Sisilia mendongakkan kepalanya menatap David yang saat ini sedang berdiri di depan mejanya.
Pemuda itu juga sedang mengeluarkan dua kotak makanan dari dalam tote bag, juga tak lupa dua minuman berbeda yang langsung membuat Sisilia menelan ludahnya dengan susah payah.
"Minuman apa aja yang penting dingin. Tapi, mau minta Boba ini boleh?"
David menganggukkan kepalanya, membuat Sisilia segera menarik cup minuman tersebut lalu mengambil sedotan besar yang memang sudah disediakan sebelum akhirnya perempuan cantik itu menyesap minuman segar dan dingin dengan mata terpejam akibat dahaganya yang sudah terpenuhi.
"Oh, nyaman banget kalau kayak gini. Segar rasanya." Sisilia tersenyum menatap David. "Thank you, David. Maaf, merepotkan kamu."
"Nggak apa-apa, Mbak. Nggak merepotkan sama sekali."
"Bagi nomor WA kamu, dong. Biar nanti Mbak bisa minta nomor rekening kamu buat transfer minuman dan juga makanan yang kamu beli. Mbak ganti," kata Sisilia penuh semangat.
Terlalu bersemangat karena ia bisa menuruti keinginannya untuk membeli minuman dingin dan segar tanpa harus pergi jauh-jauh.
"Nggak usah diganti, Mbak. Kebetulan aku memang belinya dua biar bisa dapat diskon." David tersenyum kemudian membuka kotak makanan dan mulai menyantap makanan dengan lahap membuat Sisilia menelan ludahnya, lalu memutuskan untuk makan dengan perut lapar apalagi melihat David yang begitu lahap.
David tidak mau kehilangan kesempatan, meminta nomor w******p Sisilia agar bisa disimpan.
"Ya ampun, terima kasih banyak, David. Ini makanannya benar-benar enak," puji Sisilia.
Sekali lagi David tersenyum, merasa senang karena Sisilia menyukai menu pilihannya sendiri.