Pagi-pagi sekali Sisilia sudah terbangun dari tidurnya. Menguap malas, perempuan cantik itu turun dari tempat tidur sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Merasa ia butuh membuka hordeng jendela kamarnya yang menghadap ke arah kosan, Sisilia segera menuju jendela besar yang membuat cahaya nantinya dari luar masuk ke dalam.
Mematikan lampu kamarnya, Sisilia mengecek daya ponselnya yang masih banyak, membuatnya urung untuk mengisi dayanya.
Membuka pintu kamar, Sisilia menyalakan lampu ruang tamu yang langsung mengarah ke arah ruang tengah dan juga dapur karena hari masih lumayan gelap dan ia butuh pencahayaan cerah.
Menatap pemandangan ruangannya yang masih banyak barang-barang tergeletak begitu saja, perempuan itu mengangkat bahunya acuh.
Ditatapnya pintu kamar sebelah di mana Debora sedang terbaring dengan nyamannya. Sahabatnya ini sudah membuat keributan kemarin dengan memecahkan kepala papanya sendiri serta menampar wajah istri kedua papanya, namun masih bisa tidur dengan nyaman di kamar miliknya.
"Udah nggak bisa berkata-kata lagi sama Debora ini. Nggak ada dosa sama sekali dia," ucap Sisilia. Perempuan cantik itu segera menuju dapur untuk mencuci perkakas kotor yang dirasa diperlukan, sebelum akhirnya ia melihat rice cooker yang hanya menyisakan sedikit nasi.
Memasak nasi adalah tujuan utamanya, baru kemudian setelah selesai, Sisilia melangkah ke arah pintu utama dan membuka pintu untuk melihat pemandangan yang masih sedikit sepi.
Kendaraan anak kosan diletakkan di sebuah bangunan khusus untuk parkir. Aman terkendali karena tidak ada pencurian selain karena lingkungannya dijaga oleh satpam 24 jam, tempat penyimpanan kendaraan juga memiliki pagar tersendiri.
"Hmmm! Dingin banget cuaca pagi ini." Angin dingin berhembus menerpa kulitnya yang hanya mengenakan daster lengan pendek, namun tidak dipedulikan oleh Sisilia.
Perempuan cantik itu segera menutup pintu rumahnya kembali sebelum akhirnya ia melangkah dengan santai keluar dari teras rumahnya.
Suasana tampak sepi, namun hanya beberapa kendaraan saja yang lewat. Pintu kosan masih banyak yang tertutup dengan lampu-lampu yang masih padam.
Sisilia melangkahkan kakinya dengan santai berniat untuk jalan-jalan pagi sambil menikmati cuaca pagi yang sejuk ini.
Langit tidak terlalu gelap seperti saat pertama kali membuka mata.
Suara ayam berkokok terdengar dari arah belakang rumah Pak Somat, yang memang hobi memelihara ayam. Warung-warung nasi dan juga lauk sudah mulai dibuka, membuat Sisilia tersenyum. Suasana seperti ini memang sangat menyenangkan, terutama ketika ia harus tinggal di area komplek dengan berbagai macam karakter manusia.
"Mbak Sisil, tumben jalan-jalan pagi. Mau cari laki apa mau cari makan?"
Bu Lina, perempuan paruh baya itu menatap ke arah Sisilia yang melewatinya begitu saja saat sedang menyapu halaman rumahnya.
Sisilia yang ditanya menghentikan langkahnya. Perempuan cantik itu tersenyum kemudian mengibaskan rambutnya.
"Saya mau cari Pak Roni. Bu Lina nggak keberatan kalau seandainya saya cari Pak Roni 'kan?" Sisilia membalas dengan tenang, karena ia tahu ini adalah cara paling ampuh memancing emosi Bu Lina.
"Ngapain Mbak Sisil mau cari suami saya? Nggak usah keganjenan deh jadi perempuan, masih goda-goda suami orang. Suami saya walaupun jelek, nggak mungkin dia tertarik dengan Mbak Sisil," sahut bu Lina ketus.
Sisilia yang mendengarnya mengangkat bahunya. "Mustahil banget kalau Pak Roni nggak tertarik sama saya. Dari segi apapun, saya lebih-lebih dari Bu Lina, lho. Nggak mungkin juga Pak Roni ngaku sama Ibu Lina, kalau dia naksir saya."
"Dasar perempuan penggoda nggak tahu malu. Kalau kamu masih punya urat malu, jangan coba-coba goda suami saya. Kalau nggak, saya pasti akan laporkan kamu ke Pak RT."
Sisilia bukannya takut, perempuan itu justru terkekeh, lalu membalikkan tubuhnya, melanjutkan kembali langkahnya yang sempat tertunda karena ucapan yang dilontarkan oleh bu Lina padanya.
Bu Lina sendiri adalah salah satu penggosip handal di area tempat mereka tinggal. Selalu mencari gara-gara dan selalu mengucapkan kata-kata yang tidak takut untuk menyinggung perasaan orang lain.
Banyak orang yang sudah mulai merasa sebal dengan perempuan paruh baya itu, namun tidak ada yang mau meladeninya karena tidak akan ada akhirnya. Hanya Sisilia yang bisa membolak-balikkan perkataan bu Lina hingga membuat perempuan itu merasa marah.
"Mbak Sisil, hati-hati dengan bu Lina itu. Siapa tahu dia main dukun dan Mbak Sisil disantet. Mbak Sisil cuma bercanda, dianya serius."
Seorang wanita paruh baya yang merupakan pemilik dari warung nasi yang sudah buka sejak beberapa tahun yang lalu berbicara pada Sisilia ketika janda muda itu datang menghampiri warung nasinya.
"Nggak apa-apa, Bu Iis. Bu Lina itu sahabat sejati saya, tanpa saya hidupnya sepi dan tanpa dia, hidup saya sepi," sahut Sisilia sambil terkekeh.
"Mbak Sisil ini ada-ada aja. Padahal mbak ini paling sering dijulid sama bu Lina. Pokoknya apa-apa tentang Mbak pasti dia bakalan tahu. Noh, sampai-sampai Mbak Sisil yang nurunin banyak barang-barang dari mobil malam itu aja, bu Lina yang duluan kasih tahu ke kami."
"Oh, iya? Iya, Bu. Itu barang-barang saya belanja buat jualan."
"Memangnya Mbak Sisil rencananya mau jualan apa? Jangan jual nasi kayak saya ya, bisa bangkrut saya, soalnya pelanggan pasti bakalan lari ke Mbak Sisil," guyon Bu Iis, membuat Sisilia tertawa.
"Jualan pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris perempuan gitulah. Doain aja semoga lancar, Bu. Biar nanti saya nggak buka warung nasi kayak punya Bu Iis," timpal Sisilia, tidak tersinggung sama sekali.
"Eh, mas ganteng, mau beli apa?"
Saat keduanya sedang sibuk bercerita, tiba-tiba saja tatapan Bu Iis jatuh pada sosok yang berdiri di belakang Sisilia membuat perempuan itu juga ikut menoleh dan terkejut menyadari jika David ternyata sudah berdiri di belakangnya tanpa ia sadari sama sekali.
"David? Kok nggak ada suara kamu melangkah di belakang saya?" Sisilia bertanya dengan heran karena ia tidak mendengar suara langkahnya sama sekali.
"Mungkin karena Mbak Sisil terlalu asik ngobrol, makanya nggak sadar aku ada di belakang," jawab David. "Bu, mau nasinya satu dengan lauk ayam dan sambal terong, ya."
"Oh, oke. Mau itu aja?"
David menganggukkan kepalanya, lalu sedikit merapatkan tubuhnya pada Sisilia. "Mbak Sisil mau pesan apa? Biar sekalian aja," tawarnya pada Sisilia.
"Oh, mau lauk aja soalnya tadi sebelum keluar saya sudah masak nasi." Sisilia menjawab pertanyaan David.
"Bu, Mbak Sisil-nya mau pesan lauk aja," kata David pada Bu Iis.
"Oke, Mas, Mbak. Pilih aja mau lauknya apa, nanti biar dibungkus sekalian."
"Mbak hari ini ke sekolah?" David tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Sisilia menolehkan kepalanya dengan senyum kecil.
"Iya. Nggak bisa absen karena memang nggak boleh absen."
"Mbak Sisil ada tumpangan hari ini? Motorku kebetulan belum selesai diperbaiki."
Sisilia berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya. "Ya udah kalau mau nebeng sama saya aja. Bagas juga palingan sama temannya."
"Iya, Mbak. Nanti aku ke tempat Mbak."
Setelah mendapatkan pesanan mereka, keduanya kemudian memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki, terlihat santai dan tenang diiringi angin pagi yang begitu menyejukkan.
David dengan baju kaos berwarna kuning dan juga celana coklat, sementara Sisilia mengenakan daster yang panjangnya di bawah lutut sedikit.
Jika orang tidak mengenal mungkin akan mengira jika keduanya adalah pasangan pengantin baru yang baru menikah.