"Larissa!" Bukan, itu bukan Ron. Dia sedang tak di sana, suami Larissa masih di luar kota, dan Larissa memeluk perut detik itu, merintih. Menatap ibu mertua yang lari tergopoh menyerbunya, sedang ayah mertua entah di mana dengan Affa. "Larissa!" "S-sakit, Bu ...." Oh, perutnya. Sendok di tangan Larissa terlepas, dia memeluk perut, ini sakit, dan Larissa berkeringat menahan sakitnya. Nyonya Fahlevi tampak menghubungi seseorang dan kemudian memanggil sopir dengan histeris, detik di mana tubuh Larissa ambruk ketika dia melihat darah mengalir turun dari kakinya. Tidak. Tidak mungkin. Sampai semuanya benar menghitam, tak tahu lagi, menyebut nama Affa pun Larissa tak sanggup. Bahkan tangis ibu Ron pun tak Larissa dengar, dia sudah lelap dalam ketidakberdayaannya menahan rasa sakit itu. B
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari