"Larissa ...." Waktu berlalu hingga akhirnya Larissa bersedia, duduklah dia di sana, di sebuah sofa yang menghadap pada sosok orang tua ... konon, orang tua Rion adalah orang tuanya juga. Namun, mengapa? Larissa asing dengan ini. Melihat bagaimana perempuan paruh baya itu tergugu dalam tangisnya, lalu suami beliau juga menjatuhkan air mata meski tak sebanyak tetesan ibu Orion. Yang mana detik berikutnya Larissa dihampiri, didekati, lalu direngkuh selepas meminta izinnya. "Ya Tuhan ...." Belasan tahun sudah terlewati. Atau bahkan mencapai angka puluhan. Entah. Itu lama sekali, sangat lama hingga tangis ibu Orion tak lekas berhenti, mengusap kepala Larissa dengan sayang, mendekap erat penuh kehangatan, melirihkan kata maaf dan terima kasihnya karena sempat kelolosan dalam menjaga Larissa