Rania memandangi langit-langit kamar, memegangi erat tepian selimut yang membungkusnya. Meski ciuman Rehan beberapa saat lalu berhasil membuatnya lupa akan kejadian teror sebelumnya, tapi nyatanya hal itu tak berlangsung lama. Ketika Rehan mengakhiri ciumannya dan membawa Rania ke kamar, rasa takut kembali menyergap. Terlebih saat Rehan meninggalkannya sendirian di dalam kamarnya. Cemas dan takut mendekap erat sampai terasa mencekik, kekhawatiran akan bayang-bayang ancaman yang membuat Rania ketakutan setengah mati dan menggulung diri di balik selimut tebal. Belum lagi perasaan tak nyaman setiap kali melirik ke arah jendela, Rania selalu merasa ada seseorang yang berdiri di luar jendela tengah mengawasinya. Hingga suara derit pintu berhasil menyentaknya, mengerjapkan matanya dengan napas m

