Rania keluar dari kamar, disambut Rehan yang sudah menunggunya di depan pintu. Rania tersipu malu, mendapati Rehan terkagum-kagum memandanginya, sampai-sampai mulutnya terbuka tanpa bisa berkata-kata kecuali, "Wow." Rania mendengkus geli. "Jangan lebar-lebar mangapnya, nanti ada lalat terbang masuk me mulut kamu." Rehan tergelak mendengar candaan Rania. "Enggak akan, lalatnya udah kejang-kejang duluan lihat kamu." Rehan melangkah maju, tangannya menarik pinggang Rania sampai sang empu terkejut. "Cantik banget sih calon istri aku." "Ihs, Rehan, lepasin." Rania memukul pelan d**a Rehan, tak nyaman dengan posisi mereka saat ini. Pasalnya Rania bisa merasakan sesuatu menggesek pahanya. "Jangan macem-macem ya Rehan, aku aduin mama loh." Alih-alih menurut, Rehan malah menantang balik. "Aduin

