Rehan mengembuskan napas lelah, telinganya berdengung mendengarkan omelan dari seberang telepon. Suara nyaring memekakkan telinga, dengan nada kekhawatiran dan mulut pedas tak terkontrol. Siapa lagi kalau bukan Kayna, yang saat ini tengah mengomelinya karena membawa kabur Rania pagi-pagi buta. "Hm," sahut Rehan ketika Kayna memintanya untuk membawa Rania segera pulang. "Iya, bawel." Rehan terkadang geregetan sendiri sama Kayna, pasalnya meladeni wanita itu seperti menghadapi induk ayam yang kehilangan anaknya. "Tenang aja, Rania pasti pulang dalam keadaan utuh. Aku masih suka daging ayam, meski daging Rania juga menggoda buat dimakan." "Ya, Rehan! Jangan macam-macam kamu----" Rehan memutus sepihak sambungan telepon, tak mau mendengar teriakan nyaring Kayna yang berpotensi meledakkan gen

