Epilog

1985 Kata

Suasana duka menyelimuti, bersama turunnya gerimis di pagi hari seakan menunjukkan langit pun ikut bersedih atas kepergian Rafael. Setelah dua bulan berjuang dengan alat bantu medis, nyatanya Tuhan berkehendak lain. Rafael menyusul kepergian Laura yang lebih dulu pergi bulan lalu. Derai air mata membasahi pipi mama Rafael, tangisnya kembali pecah ketika tubuh tak bernyawa di dalam peti mulai ditutup tanah. Dalam dekapan suaminya, mama Rafael hanya bisa meraung-raung histeris, hingga akhirnya tak sadarkan diri. Rania terdiam, air matanya luruh membasahi wajah. Melihat mama Rafael, mengingatkannya pada bertahun-tahun lalu ketika ia meraung-raung histeris di atas pusaran makam kedua orangtuanya. Seakan bisa merasakan kembali kepedihan dan sakitnya ditinggalkan, Rania mengeratkan pelukannya p

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN