Kayna duduk di sofa, menghadap Rania yang tengah menatapnya penuh penghakiman. Tentu saja Kayna tahu alasannya kenapa, apalagi kalau bukan karena hadiah spesial yang ia berikan beberapa saat lalu. Hadiah yang ia harapkan akan membuka pintu hati Rania, membuat wanita itu berpikir ulang atas keputusannya. "Why?" Kayna tak tahan ditatap sedemikian rupa, seolah dirinya seorang penjahat yang hendak dihakimi. "Apa aku melakukan kesalahan?" tanyanya. Rania menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak sembari mengatur napas. Beberapa saat lalu batinnya sempat terguncang, hadiah yang Kayna berikan berhasil mengacaukan hatinya, meruntuhkan tembok yang susah payah ia bangun lagi selama dua hari ini dan juga memporak porandakan semua yang ia yakini sampai detik sebelum ia menyaksikan video dan fo

