Rania menyapukan pandangannya ke sekeliling pelataran rumah mewah, besar nan luas, semenjak mobil Rehan memasuki gerbang kediaman Dirgantara. Rania menelan ludah, mencengkram kuat balutan dress hitam yang dikenakan. Sejak dari rumah Kayna, mati-matian ia menyiapkan diri untuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Meski Rehan berkali-kali meyakinkan bahwa orangtuanya akan menyambut gembira kepulangan dirinya, tetap saja Rania merasakan pergolakan di dalam benaknya begitu mengusik dan membuatnya cemas. "Ada apa?" Bahkan hingga Rania tak sadar jika mobil Rehan telah berhenti tepat di depan bangunan besar rumah orangtuanya. Suara lembut Rehan berhasil menarik atensi Rania, mengembalikan fokusnya. "Ya?" Rania tersenyum canggung, menyembunyikan perasaan gugup yang terlanjur kentara di ekspresi

