Kayna mencengkram erat celana bahan yang membungkus pahanya, menyalurkan emosi yang masih menggebu-gebu, diikuti napas memburu dan kilatan kebencian yang terpancar di matanya. Harusnya, Kayna sudah membuat Rehan membayar atas apa yang telah dilakukan laki-laki itu kepada Rania. Setidaknya satu patah kaki atau tangan, mampu membayar sebagian rasa sakit hati yang ditorehkan. Meski jika Rehan mati sekalipun tak akan mampu membayar luka yang telah laki-laki itu dan keluarganya sematkan pada Rania, yang juga berimbas pada dirinya. Namun, Kayna tak mampu merealisasikan keinginannya untuk melumpuhkan Rehan. Rencananya gagal, bahkan sebelum ia memulai aksinya. Semua itu gara-gara kehadiran sosok pahlawan kesiangan yang entah muncul dari mana, merusak rencana Kayna untuk menghajar Rehan, dengan me

