BAB 4

1050 Kata
Kenapa orang mudah sekali terjatuh di kesalahan yang sama, tapi marah-marah bila dikatakan lebih dungu dari Keledai? Monic nggak tahu jawabannya, tapi dia memang akan marah kalau dibilang lebih dungu dari Keledai. Meski faktanya dia memang Iuar biasa dungu seperti Keledai, karena bisa-bisanya dia jatuh pada kesalahan yang sama dan berulang. Toleransinya pada alcohol memang tidak bisa dikatakan sangat hebat, namun kebiasaanya saat kesadarannya sudah direnggut oleh alcohol itulah yang cukup mengkhawatirkan. Memang selama ini belum pernah ada ‘korban’ dari kebiasaan buruknya itu, tapi sepertinya kali ini Dewi Fortuna sedang berlibur dan tidak mau ikut campur urusan Monic. Sudah lima belas menit Monic mondar-mandir di parkiran belakang yang dikhususkan sebagai parkiran motor. Selama dua tahun bekerja di InCorp, Monic nggak pernah terlambat. Semalam apa pun dia pulang, Monic selalu datang tepat waktu. Hari ini pun nggak. Dia berangkat dari rumah pukul 06.45, dan tiba di gedung Malaka Pacific pukul 07.40. Jam kerjanya dimulai pukul tepat 08.00, dan sekarang sudah pukul 07.53, tetapi gedung yang sudah disambanginya selama dua tahun itu berubah jadi rumah hantu baginya. Monic masih berusaha mengumpulkan nyali untuk memasukinya. Tingkahnya yang tidak biasa itu cukup menarik perhatian orang-orang sekitarnya yang kebetulan lewat. Hanya saja mereka terbiasa untuk tidak peduli dengan urusan orang lain, jadi Monic dilewati begitu saja oleh mereka. Hanya sepasang mata yang sejak tadi melihat Monic mondar-mandir seperti mesin fotocopy, hingga ia juga pusing sendiri. “Neng, ngapain dari tadi mondar-mandir? Ada yang ketinggaIan?” Tukang bubur yang mangkal di samping pintu gerbang belakang bertanya. Mungkin mamang itu sudah bosan melihat Monic mondar-mandir gelisah di sana. Mamang bubur itu nggak tahu nama Monic, dan Monic pun nggak tahu siapa namanya, tapi mereka sering ngobrol waktu Monic merokok di belakang saat jam istirahat. “Nungguin orang, Mang,” sahut Monic asal. Tukang bubur itu akhirnya membiarkan Monic kembali dengan pikirannya sendiri. Masih dengan pola yang sama, mondar-mandir gelisah. Lagi-lagi durasi panggilan di ponselnya muncul di ingatan. Sontak Monic kembali merinding. Kenapa dia menelepon Gerald saat sedang mabuk? Kenapa harus Gerald? Selama ini, Monic dalam pengaruh alkohol hanya menelepon orang-orang yang berhubungan dengan dirinya. Bisa-bisanya Monic malah menelepon bosnya?! Lalu apa saja yang dia ocehkan selama hampir 46 menit Iebih itu? Gila! Bagaimana bisa drunk dialing itu berlangsung selama itu? Apa saja yang dia katakan kepada Gerald? “Apa karena kejadian hari Kamis?” gumam Monic kepada diri sendiri. Mencoba mengingat-ingat dengan kapasitas otaknya yang mulai overheat. Mungkinkah karena kekesalan yang memuncak dan patah hati yang mendalam yang memicu tragedi drunk dialing yang salah alamat itu? Apakah karena Monic begitu marah dan sebal kepada Gerald karena menganggap Gerald lah sumber dari segala kemalangan Nasib asmaranya, Iantas dia pun menumpahkannya secara nggak sadar saat melakukan drunk dial? Kalau begitu ... Deg. Langkah Monic sontak berhenti, matanya membulat sempurna dengan mulut sedikit terbuka. Jika itu pemicunya, berarti kemungkinan besar telepon Monic penuh sumpah serapah, kan? Atau bisa saja Monic tiba-tiba mengabsen seisi Taman Safari dan menumpahkannya ke atasannya itu. “Oh … no …” gumam Monic Iemas. Tungkainya kehilangan kekuatan, jika tidak ingat saat ini ia sedang di tempat umum, ingin rasangan Monic jongkok dan menangis sekencang-kencangnya. MeneIepon bosnya saat mabuk saja sudah sangat buruk, apalagi memaki-makinya? “Bego, Moniccc Begooo!” Monic mulai menjambaki rambutnya sendiri, super duper frustrasi. Untung saja ia memakai produk shampoo premium sehingga rambutnya tidak serta merta tercabut paksa saat ia jambaki. Namun tetap saja kembali tingkah Monic ini menarik perhatian sekelilingnya. Beberapa orang mengira Monic sedang ketahuan selingkuh dengan rekan sesama kantornya, sehingga ia stress sendiri. Apa ini berarti Monic sudah berada di ujung kariernya bersama InCorp? Ya, Tuhan! Dia bahkan masih seorang legal assosiate! Posisinya masih di Ievel dasar dari seorang corporate lawyer yang dia inginkan. Tapi ... seteIah apa yang dia Iakukan kepada Gerald, masihkah ada harapan bagi Monic untuk melanjutkan kariernya? InCorp kantor tempat Monic bekerja merupakan sebuah perusahaan bussiness consultant yang menawarkan berbagai layanan bisnis mulai dari konsultasi pajak, perizinan, pembuatan kontrak, pendirian perusahaan, jalur masuk investor, hingga proses rekruitment. Kliennya adalah perusahaan-perusahaan dalam berbagai bentuk, baik yang sudah bonafide, startup yang baru meraba-raba struktur perusahaan, hingga perusahaan asing yang ingin membuka cabang atau investor yang ingin berinvestasi di perusahaan-perusahaan Iokal. Salah satu jasa yang diberikan adalah pendampingan hukum dan legal untuk korporasi, yakni departemen khusus hukum tempat Monic bernaung. Divisi itu khusus mengurusi seluk beluk yang berkaitan dengan hukum dan perizinan. Mereka melayani jasa proses pembuatan perusahaan, perizinan lahan, pembuatan kontrak atau perjanjian, litigasi, dan banyak lainnya. Posisi Monic adalah legal assosiate yang berada di paling bawah. Di atasnya ada junior lawyer, lalu senior lawyer, dan partner. Dia bahkan belum berhak menyandang gelar pengacara, karena belum memenuhi kualifikasi. Padahal, ini pekerjaan pertamanya yang linier dengan bidang studi kuliahnya dulu. Dan semuanya terancam hancur akibat kebodohan dalam pengaruh alkohol? Kembali lagi, Monic menolak dikatakan dungu bagai Keledai, namun sepertinya musibah yang baru dialaminya memaksanya untuk mengakui dirinya memang lebih dungu dari Keledai. Kini Monic paham mengapa Rhoma lrama membuat lagu berjudul Mirasantika. Alkohol memang sumber masalah! “Nice,” kata Monic pasrah. Bye-bye tabungan untuk beli mobil bekas. Bye-bye dana liburan keliling Asia. Bye-bye dana steril Bobby. “Nice, Monic, niceeee!” Monic mengentak-entakkan kakinya dengan kesal, lantas membungkuk dan semakin kesal melihat ujung celana pipa kremnya terdapat bintik-bintik cokelat, cipratan air comberan saat dia naik motor tadi. Seakan Dewa Kesialan sedang mengajaknya bercanda, sungguh sial sekali hari Monic ini. “Whyyyyy ....” erang Monic putus asa. Sungguh peristiwa yang buruk untuk mengawali hari Seninnya. Monic punya banyak alasan untuk membenci hari Senin, tetapi hari ini kebenciann seolah membludak. Saking membludaknya, ingin sekali rasanya Monic berlari pulang dan bersembunyi di bawah selimut seharian. “Oke, stop.” Monic menarik napas panjang dua kali, dan ditenangkannya diri sendiri. SIap tidak siap dia harus menghadapi apapun konsekuensinya hari ini. Dicobanya untuk mengatur ekspresi wajahnya agar tidak kelihatan frustasi dan menyedihkan. Setelah dirasa semua sudah siap, Monic menatap jam tangannya. Seketika ekspresi full smile yang sudah ia pakai berubah dengan ekspresi horor. Kepanikannya datang lagi. Sekarang sudah pukul 07.57. “s**t!” makinya sebagai penutup. Tanpa berpikir panjang, Monic pun berjalan cepat memasuki gedung Iewat pintu belakang dan terbirit-b***t menuju lift. Terlambat masuk kantor bisa berujung kemiskinan, karena kantornya memberlakukan hukuman potong gaji dengan hitungan per tiga menit keterlambatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN