BAB 1
Monic sudah memikirkan ini semalam. Ia tahu betul risiko yang menunggu kalau alkohol mengambil alih kendali. Namun tetap saja, ia duduk di bar, meneguk bir gelas demi gelas sampai pikirannya kabur. Dunia terasa ringan, tubuhnya hangat, dan segalanya tampak menyenangkan. Ia mabuk, dan ia menikmatinya.
Masalah hidup yang biasanya menekan mendadak lenyap. Kisah cinta yang mandek, karier yang stagnan, usia yang terus bertambah tanpa pencapaian—semuanya seperti mimpi buruk yang bisa diabaikan. Awalnya, Monic merasa semua ini sepadan. Tawa lepas dan kebebasan sesaat itu terasa worth it. Tapi begitu pagi datang, kepala berat, perut mual, tubuh remuk, ia sadar: ini sama sekali tidak sepadan.
Kalau ini cerita di platform novel online, mungkin ia terbangun di apartemen mewah milik pria tampan, dengan aroma kopi dan suara wajan dari dapur. Mungkin pria itu CEO muda dengan masa lalu kelam. Tapi kenyataannya? Monic terbangun di kamar sempit kontrakan bersama ayah dan dua abangnya. Tak ada kopi, tak ada pria tampan, hanya bau alkohol sisa semalam.
Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel. Firasatnya buruk. “Apa sebaiknya aku cek chat dulu?” gumamnya. Rambut kusut ditarik-tarik, wajah kusam menatap layar. “Kalau semalam aku ngoceh aneh-aneh, pasti Aris bakal nanya, kan? Ya udahlah, Nic, mau gimana lagi? Semua orang pernah mabuk terus telepon gebetan.” Ia terkekeh getir.
Memang benar, kebiasaan drunk dialing itu bikin frustrasi. Chat nyasar, telepon tengah malam, voice note absurd—semuanya keluar tanpa filter. Hal-hal yang tak pernah ia lakukan saat sadar justru jadi rutinitas ketika mabuk. Entah berapa kali ia bangun dengan jantung berdebar, lalu menemukan jejak kebodohan semalam: panggilan ke mantan, pesan panjang penuh drama, curhat yang seharusnya dikubur.
Ia tahu ini kebiasaan buruk. Tapi tetap diulang. Berkali-kali. “Manusia itu keras kepala, t***l, sombong,” pikirnya. “Terutama aku.”
Pagi ini, Monic mengisi ulang baterai ponsel sekaligus nyalinya. Yang paling ia takutkan bukan telepon ke mantan, tapi kemungkinan terburuk: menelepon Aris. Aris bukan mantan. Ia adalah orang yang diam-diam Monic sukai, yang hanya ia pandangi dari jauh, ia perhatikan lewat story i********:, ia sebut dalam doa-doa iseng. Kalau semalam ia benar-benar menelepon Aris, itu bukan sekadar drunk dialing. Itu bencana.
“Oke, cuma itu, kok,” pikirnya. “Aku tinggal nyari alasan masuk akal, biar dia percaya aku nggak ada perasaan apa-apa.” Ia menarik napas, membuka aplikasi obrolan. Grup kantor aman. Grup keluarga aman. Chat pribadi bersih. Tak ada pesan nyasar, tak ada voice note absurd. Perlahan, kekhawatiran mereda.
Dengan lebih percaya diri, ia membuka riwayat panggilan. Nama paling atas: Gerald (InCorp). Bukan Aris, bukan Johan, bukan Mario. “Syukurlah aman,” batinnya lega. Tapi kelegaan itu runtuh saat ia melihat detail panggilan.
“Gerald?” gumamnya. Ia tak ingat pernah menelepon Gerald. Apalagi dini hari. History menunjukkan dua panggilan: tiga menit, lalu empat puluh enam menit.
Monic menatap layar lama. Otaknya lambat, tapi begitu nyambung, reaksinya meledak. Mata melotot, jantung berdebar kacau. Gerald bukan teman curhat. Ia atasan. Formal. Kaku. Kalau benar ia menelepon selama hampir satu jam, pasti ada hal-hal yang tak seharusnya diucapkan.
“Sialan!” Monic menutup wajah dengan kedua tangan. “Aku drunk dialing ke Pak Gerald?!”
***
48 jam sebelum tragedi drunk call
Hal paling menyebalkan apa yang mungkin terjadi kepada seorang b***k korporat? Monic punya banyak sekali daftarnya, tetapi jika ditanya saat ini, jawabannya akan sangat spesifik. Bukan fakta bahwa gaji hanya numpang Iewat satu atau dua hari di rekening. Bukan juga soal jam kerja yang begitu fleksibel hingga Monic nggak paham kenapa di kontrak tercantum jam kerja nine to five, padahal pada penerapannya Monic nyaris tidak pernah bisa pulang pukul Iima sore. Bukan juga soal rencana cuti dan liburan bareng teman-temannya yang seringnya hanya menjadi wacana.
Bagi Monic, hal yang paling menyebalkan adalah ketika sepanjang hari berjalan sempurna, setiap to do list berhasil dilakukan, Ialu bayang-bayang teng-go di depan mata, diikuti oleh rencana kegiatan menyenangkan sepulang kerja—tambahkan keterangan bersama gebetan—lalu atasannya muncul menjelang pukul Iima, dan berkata, “Monica, review dan analisa dokumen buat PT. Garuda Trisakti sudah ada?”
Tanpa prasangka buruk Monic menjawab, “Belum, Pak. Saya belum sempat kerjakan karena Bapak minta untuk dahulukan review kontrak kerja CV. Tjahja Sari.”
“Begitu.”
Bosnya memasang wajah tanpa ekspresi, membuat Monic masih saja nggak berpikiran negatif. Mungkin si bos hanya lupa, atau hanya sedang mengatur jadwalnya sendiri. Entahlah, Monic tidak mau ambil pusing karena saat ini fokusnya hanya berada pada jarum jam dinding yang makin mendekati angka 5.
“Apa bisa diselesaikan hari ini? Besok pagi saya ada meeting dengan mereka.”
“Hari ini? Umm—”
“Kalau sudah langsung kasih ke saya ya. Oh, ya. Jangan lupa identifikasi masalah dan solusi yang bisa kita berikan. Saya lihat sekilas ada beberapa masalah yang perlu penanganan khusus.”
Monic sungguh takjub bagaimana kalimat-kalimat itu mengalir begitu lancar, selancar air terjun Niagara. Kata-kata yang terdengar elegan, sopan, bahkan penuh apresiasi, padahal isinya adalah permintaan revisi mendadak di luar jam kerja. Seolah-olah permintaan itu nggak menyakiti, nggak merugikan, dan jelas-jelas mengacaukan rencana pulang cepat yang sudah ia susun sejak pagi.
Monic jadi bertanya-tanya, siapa yang sebenarnya kelewat ekstrem di sini? Dirinya yang terlalu polos dan selalu berusaha memahami, atau atasannya yang kelewat berdedikasi pada Perusahaan sampai-sampai lupa bahwa anak buahnya juga manusia?
Yah, bagaimana lagi. b***k korporat seperti Monic sudah hafal betul pola-pola semacam ini. Atasan muncul di jam-jam kritis, biasanya menjelang jam lima sore, dengan permintaan yang terdengar ringan tapi efeknya bisa bikin lembur sampai malam. Seolah-olah mereka punya radar khusus yang bisa mendeteksi kapan anak buahnya mulai santai, lalu buru-buru mengirim tugas agar suasana tetap tegang.
Monic menghela napas panjang. Dalam hati, ia mulai mengumpat, meski tetap dengan nada sopan. Karena mengumpat secara terang-terangan bisa berujung pada evaluasi kinerja yang “kurang maksimal.”
Lucunya, tipe-tipe atasan seperti ini sudah jadi rahasia umum. Rata-rata mereka punya kehidupan yang datar, kurang warna, dan menjadikan pekerjaan sebagai satu-satunya sumber validasi diri. Sebenarnya mirip dengan Monic juga. Bedanya, yang satu sudah duduk di kursi empuk, sementara yang lain masih sibuk mengejar jam pulang yang tak pernah pasti.
Namun—dan ini adalah fakta yang paling menyebalkan—Monic nggak bisa melakukan apa-apa selain tersenyum sopan dan menjawab “Noted, Pak.”
“Noted, Pak” adaIah sebuah kata keramat yang bisa memicu depresi bagi b***k korporat sepertinya. Sebuah ciri-ciri manusia munafik karena begitu sang atasan berbalik kembali ke ruangannya, Monic harus menahan diri untuk nggak melemparkan staples ke belakang kepalanya. Atau selain itu masih ada opsi lainnya, yaitu mengabsen seluruh isi Kebun Binatang untuk disematkan di belakang nama sang atasan.
Sepertinya, untuk kondisi Monic saat ini, opsi kedua adalah yang paling masuk akal: mengumpat dalam hati. Bersih, tanpa jejak, dan tidak akan jadi bukti di sidang evaluasi kinerja. Paling-paling, hanya berujung pada satu jerawat batu baru yang muncul di dagu besok pagi—bonus dari stres yang tak sempat disalurkan.
Monic kembali duduk di kursinya, punggungnya bersandar lemas, seperti semangatnya yang mendadak menguap. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan sekuat tenaga, berharap beban emosinya ikut keluar bersama udara yang hangat.
Tangannya meraih tumbler biru di meja. Air putih dingin diteguknya perlahan, nyaris seperti ritual. Ia berharap dinginnya air itu bisa ikut mendinginkan kepala yang mulai panas dan hati yang mulai gatal ingin membalas pesan atasan dengan stiker emoticon penuh pasrah.
Tapi tentu saja, Monic bukan tipe yang cari masalah. Dia tahu betul, di dunia korporat, membalas dengan stiker pun bisa jadi bumerang. Jadi, ia memilih diam. Menyimpan umpatan dalam hati, menekan emosi dengan air putih, dan mulai membuka dokumen revisi yang baru saja dikirim.
“Kerja, Mon. Kerja,” gumamnya pelan, seperti mantra.
Karena di dunia ini, tidak semua orang bisa memilih. Ada yang memilih lembur, ada yang dipaksa lembur. Dan Monic? Dia sudah tahu betul, dirinya termasuk yang kedua. Tapi setidaknya, dia masih punya tumbler dan air dingin. Itu pun sudah cukup… untuk bertahan malam ini.
“Sabar, Bund,” bisik Desi yang duduk di sebelahnya. “Gerald emang moodbreaker banget.”
Monic mengangguk. “Dasar Aphopis!” katanya penuh kebencian. Tatapan matanya yang sinis terarah pada pintu ruangan atasannya itu.
“Aphopis? Apa tuh?”
“Dewa Mesir kuno yang super jahat!”
Desi tergelak sambil memegangi perutnya, baru kali ini ia mendengar ada bawahan yang menyamakan atasan menyebalkannya dengan seorang Dewa Mesir kuno, dan bukan dengan salah satu penghuni Kebun Binatang seperti kebanyakan. Rekan sesama legal officer itu hanya menepuk pundak Monic dan beranjak pergi, mungkin ke toilet. Sementara Monic, dengan geram mulai membuka dokumen-dokumen berisi materi tentang PT. Rajawali Boga.
Demi Marsha yang sering mengganggu Bear, ingin juga rasanya Monic untuk tantrum dan membuat kegaduhan, namun apa daya, kembali lagi dia hanya b***k korporat. Jadi pikirnya makin cepat ia kerjakan, maka makin cepat dia angkat kaki dari kantor ini. Harapannya hanya satu, semoga dia tidak pulang disaat yang bersamaan dengan para banci mulai mangkal.
Lantas di sinilah Monic, pukul tujuh malam, masih duduk manis di kubikel kerjanya, memelototi setiap materi dan membuat analisanya. Ruangan divisi legal belum kosong sepenuhnya. Beberapa junior corporate lawyer masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Yah, Monic juga nggak masalah dengan kerja Iembur—bahkan baginya lembur sudah senormal bersin atau menguap. Yang jadi masalah adalah ekspektasi pulang cepat dan bagaimana rencana indah yang diempaskan begitu saja.
Ponselnya bergetar. Nama Aristico terpampang di layar. Muka Monic semakin masam.
“Iya, aku masih lembur,” kata Monic bahkan sebelum Aris bertanya.
Di seberang, Aris terbahak. ’Aphopis beneran nggak bisa dinego? Besok pagi gitu?”
“Mungkin bisa, tapi aku kan cupu. Enggak berani, Bang.”
Tawa Aris semakin lebar. “Payah kamu, Nic. Jadi, kamu beneran nggak bisa pergi malam ini?”
Monic menggeleng sedih, lalu dia sadar Aris nggak bisa melihat gesturnya.
“Nggak bisa, Ris. Sori.”
“Yah... apa boleh buat,” kata Aris menyerah.
“Padahal kamu pasti hepi kalau ikut aku malam ini Nic. Seru tahu acaranya. Banyak makanan enak yang bisa kamu cobain.”
“Gimana Iagi ....” Monic semakin badmood.
“Besok-besok masih ada nggak, sih?”
“Hari ini terakhir, sih.”
Monic menghela napas panjang. “Tahun depan kalau gitu.”
Obrolan dengan Aris berlanjut hingga sekitar Iima menit. Pria itu menghibur Monic dan bilang kalau dia akan mengajak Monic lagi semisal ada ada acara serupa. Bukannya terhibur, Monic malah semakin jengkel. Harusnya malam ini dia menikmati kuliner malam di acara festival makanan jalanan Jakarta bersama Aris. Harusnya, malam ini Monic melewati satu tahap PDKT dengan orang yang sudah ditaksirnya selama setahun belakangan.
Ditatapnya lembar-lembar dokumen PT. Rajawali Boga dengan penuh dendam. Namun, dendamnya yang sebenarnya, ditujukan kepada orang yang ada di balik pintu ruangan nomor dua dari kanan. Gerald Nugraha, seorang senior corporate lawyer secara resume kerja sekaligus legal manager secara jabatan di kantor, atasan kejam yang membuat rencana kencannya dengan gebetan gagal total.