BAB 2

1362 Kata
24 jam sebelum tragedi drunk call Monic menatap antrean di depannya. Masih ada lima orang lagi sebelum gilirannya memesan kopi. Di pagi hari, coffee shop depan kantor ini memang sedang ramai-ramainya. Para karyawan kantoran butuh amunisi dan juga sesuatu yang dibeli untuk menghabiskan uang. Monic merasa bahwa ramalan ahli keuangan itu benar. Anak milenial diprediksi susah punya rumah sendiri, terutama karena mereka kebanyakan jajan kopi. Monic adalah salah satunya. Mana perutnya sangat rewel dan sok kaya, hanya bisa menerima s**u oat sebagai campuran kopinya. Padahal mengganti s**u sapi dengan oat upgrade harganya juga Iumayan. Tanpa kopi, otak Monic Iamban bekerja dan dia akan mengantuk seharian. Sedang memaksa pakai s**u sapi hanya akan membuat asam Iambungnya kambuh dan bolak-balik ke belakang. Jiwa milenialnya akan berkata, ini adalah reward bagi diri sendiri. Suatu bentuk menyayangi diri sendiri setelah bekerja begitu keras. Namun, jiwa iritnya selalu bilang kalau itu cuma excuse buat buang-buang uang. Itu juga penyebab di usianya yang ke-30 tahun, jumlah tabungannya sangat memprihatinkan. Jangankan punya apartemen, mobil, dan deposito ratusan juta seperti di film-film, Monic bahkan masih tinggal bersama orangtuanya. Ah, sudahlah, Monic menyuruh pikirannya diam. Hidup ini udah cukup menyedihkan, tanpa harus dipikirkan terus-terusan dan ditambah penyesalan yang nggak perlu. “Berikutnya.” Monic maju satu langkah. Masih ada empat orang Iagi. Mata Monic mengedar ke sekeliling coffee shop. Dinding kacanya membuat Monic bisa melihat ke Iuar dengan mudah. Dan di sanalah dia melihat dua orang itu. Si cowok bertubuh tinggi dengan gaya rambut french crop a la Park Seo Jon di drakor Itaweon Class. Sedangkan si cewek bertubuh mungil dan ramping, mengunakan hijab warna pink. “Aris dan Ana,” gumam Monic. Dua orang itu berjalan akrab sambil bercanda, memasuki coffee shop yang sama. Monic mengikuti pergerakan kedua orang itu dengan matanya. Dengan gaya pria sejati, Aris mempersilakan Ana mengantre duluan. Dan mereka masih saja ngobrol dan tertawa bersama. Di satu momen, Aris berkata entah apa, lalu setelah Ana mengangguk, Aris mengambil bulu mata Ana yang jatuh di pipinya. Monic mengerutkan dahi. Sejak kapan Aris akrab dengan salah satu anggota tim finance itu? “Berikutnya.” Monic kembali menatap ke depan. Ah, Aris kan memang orangnya supel dan akrab sama siapa aja, pikirnya nggak ingin overthinking lebih jauh. Namun, keakraban itu nggak cuma terjadi di coffee shop. Beberapa kali Monic melihat Aris bersama Ana. Bahkan keduanya makan siang berdua kantin, padahal biasanya Aris akan makan siang bersama geng divisi HRD, atau kadang-kadang bersama Monic. Namun, cowok itu hanya melambaikan tangan waktu Monic melewati meja mereka. Untung saja mereka bertemu lagi di lift, sewaktu Monic kembali ke lantai empat setelah mengejar Pak Teja, kurir kantor yang hendak mengantarkan dokumen ke kantor notaris. “Balik jam berapa kamu semalam?” tanya Aris. “Jam sepuluhan.” Aris berdecak-decak. Monic pun nggak sanggup menahan rasa penasarannya. “Sejak kapan kamu akrab sama Ana, Ris?” Tanpa Monic duga, senyuman Iebar merekah di wajah Aris. Senyuman Iebar yang mengkhawatirkan. Senyuman Iebar yang jadi pertanda bu ruk untuk Monic. “Semalam jadinya aku pergi sama dia.” Monic berpikir sebentar. Aneh, otaknya bekerja lamban, padahal tadi sudah minum kopi. “Ke festival kuliner?” Monic memastikan. Aris mengangguk. “Ketemu dia di parkiran. Iseng-iseng aja aku ajakin, eh, dia mau.” “Oh begitu.” “Aku baru tahu kalau Ana anaknya asyik juga. Aku kira dia tipe-tipe pendiam, tapi ternyata lumayan rame juga kalau udah kenal. Dan kamu tahu, Nic? Kami sama-sama suka masak! Kapan-kapan kami janjian tukeran makanan. Aris terus saja berceloteh. Ana this, Ana that. Ana begini, Ana begitu. Ternyata begini, ternyata begitu. Begini, begitu, kepala Monic semakin puyeng saja. “Ris,” potong Monic. “Kamu suka sama Ana?” Pria itu nggak segera menjawab. Hati Monic jumpalitan dibuatnya. “Well... aku seneng jalan sama dia semalam. Anaknya cute gitu, dan nyambung juga ngobrolnya. So, aku bakal cari tahu lebih lanjut who knows, kan?” jawab Aris dengan senyum malu-malu. “Siapa tahu kami emang cocok.” *** Beberapa jam sebelum tragedi drunk call “Salah siapa kalian bisa temenan doang sampai dua tahun? Namanya cinta itu emang harus dikejar, Non!” Alunan musik dari stage terdengar lembut. Artist yang datang begitu piawai memainkan musik-musik jazz yang menghanyutkan. Suasana lumayan tenang, obrolan tipis-tipis orang lain terdengar seperti musik latar yang konstan. ltulah kenapa Monic lebih suka minum di bar, restoran, atau lounge ketimbang diskotek. Dia menyukai alkohol dan hiburan malam, tapi benci kebisingan yang membuat telinga pekak. “Ya aku harus gimana, sih,” keluh Monic sembari menegak pilsner langsung dari botolnya. Rasa pahit dan getir tercecap di lidahnya. Monic nggak terlalu suka alkohol jenis bir. Dia lebih menyukai wine atau setidaknya scotch. Namun akhir bulan begini, dompetnya bisa menangis kalau nekat menghambur-hamburkan uang. Yah anggap saja rasa pahit itu gambaran dari kondisi hatinya. “Ya kamu kan bisa maju duluan,” saran Ayuni, teman minum Monic malam ini sekaligus sahabat baiknya sejak SMA. “Udah zaman Al dan chatGPT gini, Bun, kamu masih aja kolot.” Monic berdecak. “Sinyalnya tuh belum terlalu jelas. Bodoh kali aku nekat maju tanpa possibility lebih dari 50 persen.” “Sering ngajakin hangout bareng? Sering chat random cuma buat nge-share meme? Dan… oh! Demen banget bawain kamu makanan hasil masakan dia, apa itu nggak kurang ijo?” “Itu kan karena dia emang hobi masak!” Dan sekarang, Ana-lah yang akan meraskan masakan-masakan itu, tambah Monic dalam hati. Rasa perih kembali menusuk hatinya mengingat fakta Aris akan PDKT kepada cewek lain. Dihabiskannya sisa bir di botolnya dengan sekali tenggak, lalu dia kembali minta botol yang baru. “Lagian, kalau itu sinyal ijo, kenapa dia nggak maju duluan?” tanya Monic tiba-tiba tersadar. Ayuni mendesah. “Yaah begitulah rata-rata kasus friendzone terjadi, Monica Filisita tersayang. Masing-masing selalu ngerasa punya alasan buat nggak maju duluan. Typical.” “Berengsek.” Ayuni ada benarnya. Mungkin karena itu juga kisah cinta Monic kering kerontang. Di usianya yang sudah 30 tahun, Monic hanya pernah pacaran dua kali—satu kali pacaran di masa SMP nggak perlu dihitung karena itu terlalu cinta monyet untuk menjadi cinta monyet. Kalau dirata-rata, Monic ganti pacar 15 tahun sekali. Gila, kan? Ayuni saja yang alim dan hanya minum seperlu nya punya mantan lebih dari lima. Semuanya jadi makin kering kerontang karena setahun belakangan ini Monic memendam rasa kepada Aristico, rekan kerjanya di InCorp—tambahkan Iagi keterangan ’yang sekarang sedang PDK T dengan cewek lain'. Monic menegak birnya dan mendengus keras. Nggak susah untuk jatuh cinta kepada Aris. Monic menyadari itu beberapa bulan setela perkenalan mereka. Aris yang ramah, hangat, dan gampang tertawa. Aris yang jago masak dan punya banyak list kegiatan seru untuk dilakukan. Aris yang rajin menyapa semua orang setiap pagi. Aris yang selalu menatap mata Iawan bicaranya dengan intens, sehingga mereka merasa didengarkan. Aris adalah orang pertama yang menyapa Monic saat hari pertama Monic bekerja di InCorp dua tahun yang Ialu. Saat itu Monic kebingungan karena nggak tahu cara masuk ke lobi utama—melewati semacam pintu putar yang harus diakses dengan kartu. Petugas keamanan juga nggak kelihatan, karena Monic datang kepagian. Aris muncul terburu-buru, tapi masih sempat menyapa dan membantunya masuk. Sejak hari itu, Aris menjadi sahabat baiknya karena ternyata mereka bekerja di kantor yang sama meski berbeda divisi. Perasan itu nggak muncul begitu saja. Awalnya Monic menganggap Aris sahabat baik, terlebih karena mereka seumuran. Namun dua tahun bersahabat, dan mungkin puluhan kali jalan bareng, lama-lama Monic baper juga. Setahun belakangan, Monic nggak bisa lagi menganggap Aris sebatas sahabat, apalagi rekan kerja. Yeah, apa gunanya itu sekarang? Monic menegak birnya dengan perasaan marah. Entah siapa yang paling membuatnya sebal. Apakah Aris yang tiba-tiba dapat ilham untuk PDKT dengan Ana? Atau pada dirinya sendiri yang bergerak lamban dan kebanyakan mikir sehingga kehilangan kesempatan? Entahlah. Seandainya kemarin Gerald nggak memberinya pekerjaan di last minute, Monic nggak perlu lembur dan dia bisa pergi dengan Aris. Seandainya semalam mereka jadi pergi bersama ke festival kuliner itu, Aris nggak perlu pergi dengan Ana. Lalu dia nggak akan menemukan fakta bahwa Ana ternyata seru, ternyata asyik, dan ternyata Aris merasa cocok jalan dengan Ana. 'Tunggu,' Monic mengerutkan dahi. 'Jadi semua ini salah Gerald sialan itu, kan?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN