“Bisa … nggak … bisa … nggak … bisa ...” Monic menghitung sendok di meja makan sambil menyuarakan isi hatinya, sampai sedok terakhir tersisa. “... bisa. Ah, masa, sih? Bercanda kan lo?!” Lalu Monic mulai menghitung lagi dari awal dengan titik mula yang berbeda. Sudah begitu sejak setengah jam yang lalu. Monic akan marah-marah kalau hitungannya sampai di opsi “nggak”, tapi dia juga mencak-mencak dan mengatai hitungannya menipu kalau hasilnya adalah opsi “bisa”. Lelah sendiri, Monic menggeser wadah sendok itu sejauh-jauhnya dan dia menelungkupkan punggungnya di atas meja. Kepalanya masih agak pusing sisa mabuk semalam, tapi selebihnya Monic baik-baik saja. Aneh sekali, kalau di momen begini saja otaknya menjernih dengan cepat. Begitu bangun tidur pagi tadi, dia langsung kepikiran soal om

