Cahaya lampu kamar yang temaram menciptakan siluet panjang di dinding wallpaper sutra kediaman Alzahir. Di atas ranjang luas itu, ritme napas yang memburu menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan malam. Kaira masih terjebak dalam posisi yang sama sejak tiga jam lalu, berada di atas tubuh suaminya dengan sisa tenaga yang mulai terkuras habis. Rambutnya yang lembap menempel di pelipis, sementara keringat tipis membasahi punggungnya. Setiap kali Kaira merasa gairah itu telah mencapai puncaknya, Azlan selalu menemukan cara untuk membangkitkan kembali hasrat yang seharusnya sudah surut. Pria itu seolah memiliki energi cadangan yang tidak terbatas. “Sekali lagi,” bisik Azlan pelan. Suaranya terdengar sangat serak, bergetar di pangkal tenggorokan, memberikan desakan yang membuat saraf

