Udara di koridor rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya saat Kaira melangkah bersisian dengan Azlan. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa bingung yang mulai menggelitik logikanya. Ia sudah menyiapkan mental untuk menghadapi badai makian atau setidaknya tatapan tajam dari ibunya, Dewi. Namun, pemandangan yang menyambutnya justru sangat bertolak belakang. Dewi berdiri di depan pintu ruang rawat inap dengan senyum yang dipaksakan tampak tulus. “Masuklah,” ucap wanita paruh baya itu dengan nada yang luar biasa hangat, bahkan cenderung lembut. “Khalisa sudah menunggu kalian di dalam.” Kaira sempat tertegun. Ia melirik Azlan yang juga menunjukkan raut wajah serupa—bingung namun tampak sedikit lega. Kaira mengangguk pelan, lalu mengikuti la

