Wening membuka pintu kamar Pram yang tidak terkunci, dan dia sedikit tersentak karena Pram yang sepertinya baru saja mandi. Pria itu tak berbaju, tubuh gagahnya hanya terbalut handuk di pinggang, rambutnya setengah basah dan wajahnya lebih bugar. "Bapak mandi?" tanpa sadar dia bertanya. "Ya, biar seger." Wening merogoh saku, "Tadinya saya ingin memijat, tapi Bapak sudah mandi." Pram tersenyum kecil, "Ya sudah, kamu bisa pijat saya sekarang," ujarnya. Mendekati Wening dan mendekap pinggang rampingnya, menghirup ubun-ubun kepala Wening dengan mata terpejam. Tampaknya Pram sudah sangat merindukan Wening. Wening menatap sorot mata Pram setelah Pram mundur, meskipun sudah mandi dan segar, Pram terlihat letih. Pram mundur sambil tersenyum hangat ke Wening, lalu duduk di tepi tempat tidur.

