Pram melepas pelukan Wening dengan pelan, ikut rebah di sisi Wening. Dia melirik arloji di tangannya sebelum melepasnya, lalu meletakkannya dengan pelan di atas meja kecil di samping tempat tidur. Sembari menghela napas panjang, Pram rebah di sisi Wening. “Kamu nyaman sekarang? “Iya.” “Suka pijatan saya?” “Iya, Pak.” “Tidurlah,” ujar Pram akhirnya, dia mengerti Wening yang sangat lelah. *** Wening bangun pagi itu, dan dia yang langsung duduk. Tersenyum kecil saat menyadari dirinya berada di sebuah kamar mewah, mengingat pula sikap manis Pram semalam, memberinya pijatan dan dia yang segar bugar. Menggeliat dan merenggangkan seluruh tubuhnya beberapa saat, lalu mengamati seluruh kamar, akhirnya bertanya-tanya di mana Pram, karena tidak dilihatnya pria itu. Menoleh ke pintu kamar ya

