bc

7 Hari Sebelum Berpisah

book_age18+
10
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
contract marriage
family
HE
love after marriage
friends to lovers
arranged marriage
kickass heroine
drama
tragedy
bxg
bold
loser
city
secrets
affair
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Freya adalah seorang anak yang diadopsi untuk memancing kehamilan ibu angkatnya. Ketika sang ibu berhasil mengandung tepat setelah usianya genap empat tahun, kasih sayang yang dulunya ia dapatkan secara penuh akhirnya terbagi atau lebih tepatnya hilang perlahan.

Heidi lahir dan Freya kehilangan segalanya. Satu-satunya tempat ia bersandar adalah Kenzo, anak tetangga dengan lesung pipit hangat yang menjadi dunianya.

Dua puluh tahun berlalu, sebuah perjodohan membawa Freya ke pelaminan bersama Kenzo. Freya bahagia, mengira ia akhirnya memiliki "rumah" untuk pulang yang sebenarnya. Tapi ia keliru. Kenzo menikahinya hanya karena utang budi, sementara hati pria itu sepenuhnya milik Heidi, adik Freya sendiri.

Setahun pernikahan yang dingin dan penuh pengabaian, Kenzo akhirnya menyerah. Pria itu meminta cerai demi mengejar Heidi. Menahan hancurnya hati yang tak lagi bersisa, Freya menyetujuinya, namun dengan satu syarat gila.

"Ayo berpisah. Tapi selama 7 hari sebelum surat cerai ditandatangani... tolong perlakukan aku layaknya istri yang kamu cintai."-Freya

Kenzo menyanggupinya, yakin itu hanya trik murahan. Ia tidak tahu, bahwa 7 hari itu akan menjadi awal dari penyesalannya yang abadi.

chap-preview
Pratinjau gratis
7 Hari Sebelum Berpisah
"Freya." ​Suara yang berat itu memecah keheningan ruang makan. Terdengar dingin dan juga datar. ​Freya mendongak, memaksakan seulas senyum tipis yang terasa getir di sudut bibirnya. "Ya, Mas?" ​Kenzo tidak langsung menjawab. Pria itu menggeser sebuah map tebal berwarna cokelat ke tengah meja yang dingin itu. Di samping map tersebut, secangkir teh milik Freya sudah lama mendingin, seiring dengan keheningan yang kian mencekik di dalam ruang makan mereka. ​Gerakan Kenzo begitu tenang, sangat kontras dengan jantung Freya yang mendadak berpacu kuat di balik rongga dadanya. Freya sudah tahu apa isinya, bahkan sebelum jemari lentik Kenzo mengetuk dokumen tersebut. ​"Satu tahun," ucap Kenzo lagi, sorot matanya menatap lurus ke dalam manik mata Freya tanpa adanya keraguan sedikit pun di sana. "Aku rasa waktu satu tahun sudah cukup bagi kita untuk membuktikan kalau pernikahan ini... tidak akan pernah berhasil." ​Napas Freya tercekat. Rasa sakit yang familiar itu kembali menghantamnya. Rasa sakit yang sama seperti saat ia berusia empat tahun, ketika perhatian kedua orang tua angkatnya mendadak raib, tersedot sepenuhnya pada tangisan bayi perempuan bernama Heidi. Ya, ​Heidi. Nama itu lagi-lagi menjadi bayang-bayang yang merenggut dunianya. ​"Mas Kenzo yakin?" suara Freya hampir seperti bisikan, parau dan juga bergetar. ​Kenzo menghela napas pendek, ada kilat frustrasi yang samar di matanya. "Jangan mempersulit ini, Freya. Kamu tahu sejak awal aku menikahimu hanya karena desakan Ayah. Aku menghormati omongan orang tuaku, dan aku sudah mencoba bertahan selama setahun. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri." '​Kamu tidak bisa membohongi dirimu kalau yang kamu cintai adalah adikku, kan?' Kalimat itu tertahan di tenggorokan Freya, membakar dadanya hingga sesak. ​Freya menatap penampilan suaminya di seberang meja. Kenzo duduk dengan postur tegap yang selalu tampak angkuh namun memikat. Kemeja kerjanya sedikit kusut di bagian lengan yang digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah, hadiah ulang tahun dari Freya yang, kebetulan, belum pernah pria itu lepas. Bukan karena cinta, Freya tahu itu. Kenzo hanya terlalu malas untuk menggantinya. ​Ia teringat bagaimana seminggu yang lalu Heidi datang ke rumah ini dengan dalih merindukannya. Namun, sepanjang malam, mata Heidi hanya tertuju pada Kenzo. Dan Kenzo, pria yang selalu bersikap sedingin es batu pada Freya, bisa melembutkan tatapannya hanya karena tawa renyah Heidi. Freya hanyalah orang asing yang tersisih di rumahnya sendiri. ​"Bagaimana dengan Ayah?" tanya Freya lagi, mencoba mencari celah pertahanan terakhir. "Ayahmu sangat berharap pada pernikahan kita ini." ​"Aku yang akan bicara pada Ayah. Beliau pasti mengerti," potong Kenzo cepat, seolah ingin segera mengakhiri percakapan ini. "Aku sudah menyiapkan rumah kompensasi yang lebih dari cukup untukmu setelah kita berpisah. Kamu tidak akan kekurangan apa pun." '​Kompensasi?' Freya ingin tertawa, tapi yang keluar justru setitik air mata yang langsung ia seka dengan cepat. Pria ini berpikir bisa membayar seluruh ketulusan dan rasa cintanya yang tumbuh sejak mereka masih anak-anak dengan materi. ​Kenzo tidak pernah tahu, lesung pipit pria itu saat tersenyum di masa kecil adalah satu-satunya alasan Freya bertahan hidup di tengah pengabaian keluarganya. Dan kini, alasan itu ingin pergi. ​Freya menatap dokumen perceraian di depannya. Jemarinya gemetar saat menyentuh permukaan kertas yang kasar. Ia bisa saja menolak. Ia bisa saja memohon, menangis, dan memanfaatkan rasa sungkan keluarga Kenzo untuk mempertahankan pernikahan ini. Tapi untuk apa? Menahan tubuh tanpa jiwa di sisinya hanya akan membunuhnya perlahan. ​Namun, menyerah begitu saja juga bukan pilihan yang adil untuk hatinya yang telanjur hancur. Freya menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya. Tatapan matanya yang semula layu, mendadak berubah jernih dan tegas. ​"Baik," kata Freya. ​Kenzo tampak sedikit terkejut dengan keputusan cepat itu. Alisnya bertaut. "Kamu setuju?" ​"Aku akan menandatanganinya," Freya mengangguk pelan. "Tapi, aku punya satu syarat, Mas." ​Kenzo menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat tangan di d**a dengan tatapan waspada. "Apa? Kamu minta aset tambahan?" ​Tuduhan itu bagai pisau belati yang menusuk tepat di ulu hati Freya, tapi ia menahannya. Ia tersenyum, senyum paling tulus sekaligus paling menyedihkan yang pernah Kenzo lihat. ​"Ayo berpisah," ujar Freya, suaranya kini terdengar begitu tenang namun sarat akan luka. "Tapi 7 hari sebelum berpisah, sebelum aku pergi dari rumah ini dan menandatangani surat itu... tolong perlakukan aku layaknya seorang istri. Istri yang seutuhnya. Istri yang kamu cintai." ​

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
735.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
969.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
354.4K
bc

Not just, the Beta

read
345.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook