7 Hari Sebelum Berpisah
"Freya."
Suara yang berat itu memecah keheningan ruang makan. Terdengar dingin dan juga datar.
Freya mendongak, memaksakan seulas senyum tipis yang terasa getir di sudut bibirnya. "Ya, Mas?"
Kenzo tidak langsung menjawab. Pria itu menggeser sebuah map tebal berwarna cokelat ke tengah meja yang dingin itu. Di samping map tersebut, secangkir teh milik Freya sudah lama mendingin, seiring dengan keheningan yang kian mencekik di dalam ruang makan mereka.
Gerakan Kenzo begitu tenang, sangat kontras dengan jantung Freya yang mendadak berpacu kuat di balik rongga dadanya. Freya sudah tahu apa isinya, bahkan sebelum jemari lentik Kenzo mengetuk dokumen tersebut.
"Satu tahun," ucap Kenzo lagi, sorot matanya menatap lurus ke dalam manik mata Freya tanpa adanya keraguan sedikit pun di sana. "Aku rasa waktu satu tahun sudah cukup bagi kita untuk membuktikan kalau pernikahan ini... tidak akan pernah berhasil."
Napas Freya tercekat. Rasa sakit yang familiar itu kembali menghantamnya. Rasa sakit yang sama seperti saat ia berusia empat tahun, ketika perhatian kedua orang tua angkatnya mendadak raib, tersedot sepenuhnya pada tangisan bayi perempuan bernama Heidi.
Ya, Heidi.
Nama itu lagi-lagi menjadi bayang-bayang yang merenggut dunianya.
"Mas Kenzo yakin?" suara Freya hampir seperti bisikan, parau dan juga bergetar.
Kenzo menghela napas pendek, ada kilat frustrasi yang samar di matanya. "Jangan mempersulit ini, Freya. Kamu tahu sejak awal aku menikahimu hanya karena desakan Ayah. Aku menghormati omongan orang tuaku, dan aku sudah mencoba bertahan selama setahun. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri."
'Kamu tidak bisa membohongi dirimu kalau yang kamu cintai adalah adikku, kan?'
Kalimat itu tertahan di tenggorokan Freya, membakar dadanya hingga sesak.
Freya menatap penampilan suaminya di seberang meja. Kenzo duduk dengan postur tegap yang selalu tampak angkuh namun memikat. Kemeja kerjanya sedikit kusut di bagian lengan yang digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah, hadiah ulang tahun dari Freya yang, kebetulan, belum pernah pria itu lepas. Bukan karena cinta, Freya tahu itu. Kenzo hanya terlalu malas untuk menggantinya.
Ia teringat bagaimana seminggu yang lalu Heidi datang ke rumah ini dengan dalih merindukannya. Namun, sepanjang malam, mata Heidi hanya tertuju pada Kenzo. Dan Kenzo, pria yang selalu bersikap sedingin es batu pada Freya, bisa melembutkan tatapannya hanya karena tawa renyah Heidi. Freya hanyalah orang asing yang tersisih di rumahnya sendiri.
"Bagaimana dengan Ayah?" tanya Freya lagi, mencoba mencari celah pertahanan terakhir. "Ayahmu sangat berharap pada pernikahan kita ini."
"Aku yang akan bicara pada Ayah. Beliau pasti mengerti," potong Kenzo cepat, seolah ingin segera mengakhiri percakapan ini. "Aku sudah menyiapkan rumah kompensasi yang lebih dari cukup untukmu setelah kita berpisah. Kamu tidak akan kekurangan apa pun."
'Kompensasi?'
Freya ingin tertawa, tapi yang keluar justru setitik air mata yang langsung ia seka dengan cepat. Pria ini berpikir bisa membayar seluruh ketulusan dan rasa cintanya yang tumbuh sejak mereka masih anak-anak dengan materi.
Kenzo tidak pernah tahu, lesung pipit pria itu saat tersenyum di masa kecil adalah satu-satunya alasan Freya bertahan hidup di tengah pengabaian keluarganya. Dan kini, alasan itu ingin pergi.
Freya menatap dokumen perceraian di depannya. Jemarinya gemetar saat menyentuh permukaan kertas yang kasar. Ia bisa saja menolak. Ia bisa saja memohon, menangis, dan memanfaatkan rasa sungkan keluarga Kenzo untuk mempertahankan pernikahan ini. Tapi untuk apa? Menahan tubuh tanpa jiwa di sisinya hanya akan membunuhnya perlahan.
Namun, menyerah begitu saja juga bukan pilihan yang adil untuk hatinya yang telanjur hancur. Freya menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya. Tatapan matanya yang semula layu, mendadak berubah jernih dan tegas.
"Baik," kata Freya.
Kenzo tampak sedikit terkejut dengan keputusan cepat itu. Alisnya bertaut. "Kamu setuju?"
"Aku akan menandatanganinya," Freya mengangguk pelan. "Tapi, aku punya satu syarat, Mas."
Kenzo menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat tangan di d**a dengan tatapan waspada. "Apa? Kamu minta aset tambahan?"
Tuduhan itu bagai pisau belati yang menusuk tepat di ulu hati Freya, tapi ia menahannya. Ia tersenyum, senyum paling tulus sekaligus paling menyedihkan yang pernah Kenzo lihat.
"Ayo berpisah," ujar Freya, suaranya kini terdengar begitu tenang namun sarat akan luka. "Tapi 7 hari sebelum berpisah, sebelum aku pergi dari rumah ini dan menandatangani surat itu... tolong perlakukan aku layaknya seorang istri. Istri yang seutuhnya. Istri yang kamu cintai."